Memuat...

Jurnalis AS Diserang Pemukim 'Israel', Kedutaan: "Kami Tak Bisa Melindungi Anda"

Zarah Amala
Selasa, 21 Oktober 2025 / 30 Rabiulakhir 1447 10:30
Jurnalis AS Diserang Pemukim 'Israel', Kedutaan: "Kami Tak Bisa Melindungi Anda"
Jurnalis Amerika Jasper Nathaniel (QNN)

TEPI BARAT (Arrahmah.id) - Kedutaan Besar Amerika Serikat di 'Israel' mengatakan kepada jurnalis Amerika, Jasper Nathaniel, bahwa mereka tidak bisa melindunginya dari tentara maupun pemukim 'Israel'. Dalam pesannya, kedutaan justru menyarankan Jasper untuk mengandalkan militer 'Israel', yang ironisnya, malah menjerumuskannya ke dalam penyergapan pemukim.

Pada Sabtu (18/10/2025), Jasper bersama sejumlah relawan internasional bersembunyi selama tiga puluh menit untuk menghindari serangan brutal pemukim saat mereka mendampingi para petani Palestina memanen zaitun. Mereka sempat mencoba mengubah rute agar tak berpapasan dengan para pemukim, namun sebuah jip militer 'Israel' memblokir jalan mereka. Setelah jip itu pergi, sekelompok pemukim yang sudah bersembunyi di sekitar area langsung menyerang dari balik bukit, melukai tiga orang. Puluhan lainnya ikut mengepung dari berbagai arah.

Warga kota Turmusayya, yang terletak di timur laut Ramallah dan Al-Bireh, telah lama mengatur kegiatan panen zaitun bersama untuk mengurangi risiko serangan pemukim 'Israel'. Sejak 7 Oktober 2023, kota ini berulang kali menjadi sasaran penyerangan brutal. Sekitar 85% penduduk Turmusayya memiliki kewarganegaraan AS, dan meski mereka kerap melapor ke Kedutaan AS, tanggapan yang diterima nyaris tak berarti.

Tahun ini, sekitar 200 relawan asing ikut dalam kampanye perlindungan panen zaitun di Tepi Barat. Mereka menghadapi pelecehan, intimidasi, dan ancaman dari tentara maupun pemukim 'Israel' selama kegiatan berlangsung.

Dalam pesan teks yang dibagikan Jasper, pihak kedutaan menyatakan mereka kekurangan tenaga untuk memberikan perlindungan kepada dirinya maupun warga AS keturunan Palestina, sambil mengutip alasan hukum yang membatasi kewenangan mereka. Saat Jasper bertanya apakah mereka bisa melindunginya sebagai turis Amerika, jawabannya tetap sama: tidak bisa. Kedutaan menegaskan bahwa tanggung jawab melindungi warga asing ada di tangan “pemerintah tuan rumah,” dan membandingkan situasinya dengan penarikan AS dari Suriah, Iran, Yaman, dan Venezuela.

Dalam wawancaranya dengan Quds News Network, Jasper mengatakan bahwa tentara 'Israel' justru menuntun kelompoknya langsung ke lokasi penyergapan. Ia hanya melihat tentara sekali, saat mereka mengatakan akan "naik ke bukit", lalu menghilang begitu saja. Jasper baru melihat pasukan 'Israel' lagi keesokan paginya, setelah semuanya berakhir.

Ia juga membantah klaim militer 'Israel' yang mengatakan bahwa tentara turun tangan menghentikan serangan. Menurut Jasper, tentara sama sekali tidak datang untuk membubarkan pemukim. Para pemukim baru melarikan diri ketika warga Palestina berbondong-bondong datang ke lokasi, bukan karena tindakan militer.

Penolakan Kedutaan AS untuk melindungi warga Amerika non- 'Israel' ini menunjukkan kontradiksi mencolok dalam kebijakan Washington. Duta Besar AS untuk 'Israel', Mike Huckabee, sebelumnya menyatakan:

“Ada 700.000 warga Amerika yang tinggal di 'Israel'. Jika Houtsi menyerang 'Israel' dan melukai warga Amerika, maka itu menjadi urusan kami.”

Namun, warga Amerika yang tinggal di Tepi Barat tetap dibiarkan tanpa perlindungan, menjadi sasaran kekerasan dari tentara dan pemukim 'Israel'.

Situasi ini menegaskan standar ganda AS, di mana nyawa warga Amerika di wilayah 'Israel' lebih berharga dibandingkan mereka yang berdiri di sisi rakyat Palestina. (zarahamala/arrahmah.id)