KOPENHAGEN (Arrahmah.id) - Pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait niatnya menguasai Greenland memicu gelombang penolakan keras dari penduduk pulau tersebut dan sekutu Washington di Kutub Utara. Di saat yang sama, sejumlah media internasional menyoroti dampak kebijakan agresif Trump terhadap Iran serta situasi di Gaza dan Tepi Barat.
Laporan The New York Times dari Greenland menyebutkan bahwa penduduk asli (Inuit) menolak keras tunduk pada bentuk kolonialisme baru. Meski memiliki luka sejarah kolonial masa lalu, warga Greenland lebih memilih mempertahankan sistem kesejahteraan Nordik (Skandinavia) yang menyediakan pendidikan dan kesehatan gratis dibandingkan bergabung dengan AS.
Senada dengan itu, Politico melaporkan meningkatnya kemarahan di Greenland, bahkan di kalangan pro-kemerdekaan. Pidato Trump yang dianggap "merundung" (bullying) justru membuat gagasan bergabung dengan AS menjadi sangat tidak populer. Wali Kota Nuuk menyatakan bahwa retorika Trump telah mengubah persepsi publik terhadap AS dari negara sahabat menjadi sumber kegelisahan.
Majalah Newsweek memperingatkan bahwa manuver AS di Greenland telah membangkitkan kekhawatiran keamanan di Norwegia. Oslo menilai situasi ini sebagai tantangan strategis paling serius sejak 1945, yang memaksa mereka untuk mempertegas kedaulatan atas kepulauan Svalbard di Arktik demi mengantisipasi ambisi Washington.
Terkait krisis Iran, harian Prancis Le Monde mempertanyakan efektivitas rencana serangan militer AS. Media tersebut menekankan bahwa sejarah membuktikan kekuatan udara saja jarang mampu meruntuhkan sebuah rezim. Sementara itu, Washington Post memperingatkan risiko "Model Venezuela" yang coba diterapkan di Iran melalui strategi penggantian kepemimpinan kilat, yang dianggap hanya akan memperpanjang krisis demi keuntungan minyak sesaat.
Dari Timur Tengah, harian 'Israel' Haaretz menyoroti transisi ke fase kedua rencana Trump untuk Gaza. Namun, laporan tersebut mencatat adanya ketidakjelasan mengenai pendanaan komite pengelola Gaza serta kurangnya dukungan internasional untuk menjalankan peran tersebut secara efektif.
Di Tepi Barat, The Guardian melaporkan terjadinya "pembersihan etnis secara diam-diam" di Lembah Yordan. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa 'Israel' menggunakan metode tidak langsung untuk mengusir warga Palestina dengan cara mencekik aktivitas ekonomi mereka. Serangan dari kelompok pemukim radikal terhadap komunitas Badui disebut sebagai bagian dari taktik intimidasi yang mendapat perlindungan militer, bertujuan untuk menciptakan realitas baru di wilayah pendudukan tanpa perlu perintah evakuasi resmi. (zarahamala/arrahmah.id)
