KHARTOUM (Arrahmah.id) -- Sebuah organisasi hak perempuan mencatat hampir 1.300 kasus kekerasan seksual dan berbasis gender di Sudan sejak perang saudara meletus pada April 2023.
Dilansir Al Jazeera (12/12/2025), SIHA menyebut 87 persen pelaku yang teridentifikasi adalah anggota Rapid Support Forces (RSF).
Pelanggaran dianggap meluas, berulang, dan disengaja.
Lebih dari tiga perempat kasus adalah pemerkosaan, sementara 225 korbannya merupakan anak-anak, beberapa berusia empat tahun.
Laporan itu memetakan pola tiga tahap yang mengikuti pergerakan RSF, mulai dari penyerangan rumah, kekerasan di ruang publik, hingga penahanan jangka panjang yang disertai penyiksaan, pemerkosaan bergilir, dan pemaksaan pernikahan.
Perempuan dari suku non-Arab di Darfur menjadi sasaran spesifik, sementara di Al-Gezira saksi melihat RSF memilih perempuan berkulit lebih terang sebagai “tropi”.
Kasus baru terus bermunculan, termasuk 19 pemerkosaan tambahan di Kamp al-Afad pekan lalu.
Pertempuran kini bergeser ke wilayah Kordofan, tempat RSF terus memperluas kontrol.
Serangan terhadap fasilitas umum juga meningkat, termasuk serangan di prasekolah di Kalogi yang menewaskan lebih dari 100 orang, di antaranya 46 anak.
PBB memperingatkan potensi “gelombang kekejaman” baru.
Konflik telah menewaskan ratusan warga dalam dua bulan terakhir dan memaksa lebih dari 12 juta orang mengungsi, dikutip Jumat, (12/12). (hanoum/arrahmah.id)
