NEW YORK (Arrahmah.id) — Kandidat Wali Kota New York dari Partai Demokrat, Zohran Mamdani, menanggapi keras ancaman Presiden AS Donald Trump yang mengisyaratkan kemungkinan penangkapan, pencabutan kewarganegaraan, dan deportasi terhadap dirinya.
Dalam konferensi pers di Ochopee, Florida, lokasi pusat detensi migran baru yang dijuluki “Alligator Alcatraz”, Trump menyindir Mamdani karena menentang razia ICE. “Kalau begitu, kita harus menangkap dia,” kata Trump. “Kita tidak butuh komunis di negara ini. Tapi kalau kita sudah punya satu, saya akan mengawasinya sangat ketat demi bangsa ini.”
Trump melanjutkan, “Kita kirim dia uang, fasilitas, semua yang dia butuhkan untuk menjalankan pemerintahan… Tapi banyak orang bilang dia di sini secara ilegal. Kita akan periksa semuanya. Idealnya, dia bukan komunis. Tapi saat ini, dia adalah komunis. Bukan sosialis.”
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan bahwa tinjauan resmi terhadap status kewarganegaraan Mamdani kemungkinan akan dilakukan, menyusul surat dari anggota DPR Partai Republik asal Tennessee, Andy Ogles, yang menuduh Mamdani menyembunyikan dukungan terhadap “terorisme” saat proses naturalisasi.
Dalam pernyataan yang dirilis melalui media sosial X, Mamdani menyebut pernyataan Trump sebagai “serangan terhadap demokrasi kita” dan memperingatkan bahwa ini adalah bentuk intimidasi terhadap warga New York yang berani bersuara.
“Presiden Amerika baru saja mengancam akan menangkap saya, mencabut kewarganegaraan saya, memasukkan saya ke kamp detensi dan mendeportasi saya. Bukan karena saya melanggar hukum, tapi karena saya menolak membiarkan ICE meneror kota kita,” tulisnya.
“Kami tidak akan tunduk pada intimidasi ini.”
Politisi berusia 33 tahun itu juga mengecam Wali Kota petahana Eric Adams karena dianggap ikut menggemakan retorika penuh kebencian ala Trump. “Sementara Partai Republik MAGA tengah berusaha menghancurkan jaminan sosial, mencabut layanan kesehatan dari jutaan warga, dan memperkaya para miliarder mereka, adalah sebuah skandal bahwa Eric Adams justru ikut menyuarakan kebencian dan pengalihan isu ini,” tegas Mamdani.
Lahir di Kampala, Uganda, dari orang tua keturunan India, Mamdani besar di New York dan mulai berpolitik pada 2021 sebagai anggota Majelis Negara Bagian dari Queens. Kemenangan mengejutkannya dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat, mengalahkan tokoh senior seperti Andrew Cuomo, langsung disambut dengan gelombang serangan Islamofobia.
Namun, ia juga mendapat dukungan kuat dari sejumlah tokoh politik. Gubernur New York Kathy Hochul menulis di X: “Saya tidak peduli apakah kamu Presiden Amerika Serikat, jika kamu mengancam warga kami secara ilegal, maka kamu berhadapan dengan 20 juta warga New York, dimulai dari saya.”
Peta Persaingan di Pilkada NYC 2025
Pemilu wali kota mendatang diperkirakan akan berlangsung sengit. Mamdani akan menghadapi petahana Eric Adams yang kini maju sebagai kandidat independen, serta kandidat Partai Republik Curtis Sliwa. Mantan gubernur Andrew Cuomo juga telah menyatakan minat untuk kembali maju sebagai kandidat independen. (zarahamala/arrahmah.id)
