Memuat...

Massa Hindu Radikal Serang Masjid di Nepal, Al Quran Dinodai

Hanoum
Rabu, 7 Januari 2026 / 18 Rajab 1447 08:07
Massa Hindu Radikal Serang Masjid di Nepal, Al Quran Dinodai
MAssa Hindu radikal serang sebuah masjid di Nepal. [Foto: The Week]

KATHMANDU (Arrahmah.id) -- Sebuah masjid dirusak oleh massa Hindu radikal di Nepal selatan pada akhir pekan, memicu protes oleh komunitas Muslim, penindakan polisi di beberapa kota, dan pemberlakuan jam malam di kota perbatasan utama.

Dilansir Muslim Network TV (6/1/2026), serangan itu terjadi pada hari Sabtu (3/1) di daerah Sakhuwa Maran di Kotamadya Kamala di distrik Dhanusha, Nepal. Saat kejadian, diduga sekelompok pria Hindu radikal merusak masjid setempat, menodai Al Quran, melempari batu, dan dilaporkan menargetkan properti Muslim di dekatnya. Kekerasan tersebut menyusul tuduhan dari kelompok Hindu bahwa dua pemuda Muslim telah membagikan konten di media sosial yang dianggap menyinggung sentimen keagamaan.

Warga setempat menuduh kedua pria tersebut — yang diidentifikasi sebagai Haider Ansari dan Amanat Ansari — mengunggah video yang diduga berisi pernyataan yang menghina komunitas agama tertentu. Menurut laporan setempat, kedua orang tersebut ditangkap oleh warga dan diserahkan kepada polisi dengan alasan bahwa video tersebut mengancam kerukunan antar umat beragama. Meskipun mereka ditahan, ketegangan meningkat, yang berpuncak pada serangan terhadap masjid pada hari itu juga.

Video yang beredar di media sosial tampaknya menunjukkan sekelompok pria merusak masjid, melempar batu, dan menjarah rumah-rumah milik Muslim di beberapa bagian distrik. Pihak berwenang belum memverifikasi sepenuhnya kerusakan yang terekam dalam video tersebut.

Sebagai tanggapan atas serangan masjid, kelompok-kelompok Muslim menyelenggarakan demonstrasi pada hari Ahad di beberapa kota, termasuk Birgunj, pusat perdagangan utama di distrik Parsa dekat kota perbatasan India, Raxaul. Para pengunjuk rasa menuntut pertanggungjawaban bagi mereka yang terlibat dalam perusakan dan perlindungan bagi minoritas agama.

Namun, demonstrasi di Birgunj disambut dengan kekerasan. Polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa, yang menimbulkan tuduhan penggunaan kekerasan berlebihan terhadap demonstran damai. Para pembela hak asasi manusia mengatakan tanggapan tersebut justru memperburuk ketegangan daripada memulihkan ketenangan.

Pada Senin malam, pihak berwenang memberlakukan jam malam di Birgunj setelah perintah larangan sebelumnya gagal mencegah kelompok-kelompok yang bersaing berkumpul di beberapa lokasi. Pemerintah daerah mengatakan tindakan yang lebih ketat diperlukan untuk mencegah kekerasan komunal lebih lanjut dan memulihkan ketertiban umum.

Nepal, sebuah republik sekuler dengan mayoritas penduduk Hindu, telah menyaksikan ketegangan komunal sporadis dalam beberapa tahun terakhir, dengan kelompok-kelompok Muslim — minoritas kecil — memperingatkan tentang meningkatnya permusuhan dan penegakan hukum yang selektif.

Para pembela hak-hak sipil telah berulang kali menyerukan kepada pihak berwenang untuk memastikan perlindungan yang sama, mencegah kekerasan massa, dan menghindari hukuman kolektif dalam kasus-kasus yang melibatkan tuduhan ujaran daring. (hanoum/arrahmah.id)

 

Headlinemasjidal-qur'annepalhindu radikalpenodaan