TEL AVIV (Arrahmah.id) - Sebuah kesaksian mengejutkan datang dari jurnalis asal India, Praj Mohan Singh, yang baru saja kembali dari 'Israel'. Ia mengungkapkan adanya sensor militer yang sangat ketat oleh otoritas 'Israel' guna membatasi pemberitaan mengenai skala kerusakan dan dampak nyata dari serangan rudal Iran. Menurut Singh, pemerintah 'Israel' memegang kendali penuh atas narasi perang, sehingga publik sering kali tidak mendapatkan gambaran utuh mengenai apa yang terjadi di lapangan.
"Pemerintah tidak akan memberi tahu Anda apa pun. Anda tidak diperbolehkan mengunjungi rumah sakit yang menampung jenazah, dan ketika sebuah ledakan terjadi, kami bahkan tidak diberitahu di mana lokasi pastinya," ujar Singh dalam kesaksiannya yang dikutip oleh Al-Jazeera. Ia menambahkan bahwa jurnalis dilarang keras mendokumentasikan atau mengambil gambar di lokasi-lokasi yang hancur akibat hantaman rudal Iran.
Salah satu poin paling krusial dalam laporan Singh adalah ketidaksinkronan antara pernyataan resmi militer dengan realitas di lapangan. Ia mengklaim bahwa dalam beberapa kasus, rudal Iran menghantam wilayah pemukiman tanpa adanya peringatan sirene terlebih dahulu.
Meskipun pemerintah menjamin keamanan bunker, Singh melaporkan adanya warga sipil yang tewas justru saat berada di dalam ruang pelindung. Kesaksian warga di Beit Shemesh memperkuat hal in. Mereka mempertanyakan efektivitas sistem peringatan dini karena ledakan sering kali terjadi sebelum mereka sempat mencapai area aman.
Upaya 'Israel' untuk menutupi kerusakan mulai terkuak melalui analisis unit sumber terbuka (Open Source) Al-Jazeera. Melalui foto udara dari platform yang tidak tunduk pada sensor militer, teridentifikasi sebuah rudal Iran yang menghantam langsung sebuah kompleks perumahan dan bunker perlindungan, menyebabkan kerusakan masif pada rumah-rumah di sekitarnya.
Meskipun media internasional seperti NBC News sempat menyiarkan cuplikan rudal yang menghantam Tel Aviv, rincian lokasi dan tingkat kerusakan tetap dirahasiakan oleh sensor militer 'Israel' sebagai bagian dari strategi informasi perang guna menjaga moral publik dan menyembunyikan titik lemah pertahanan.
Kementerian Kesehatan 'Israel' merilis data resmi terkait dampak serangan Iran sejak 28 Februari, 13 orang tewas dan 1.929 lainnya luka-luka.
Dalam 24 jam terakhir, 157 orang terluka, dengan 112 orang masih dirawat di rumah sakit, termasuk sembilan orang dalam kondisi kritis. Banyak korban terluka saat berlari menuju bunker saat alarm berbunyi.
Eskalasi ini merupakan balasan atas serangan besar-besaran AS-'Israel' ke Iran yang dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.200 warga Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Perang informasi ini diprediksi akan terus menajam seiring dengan meningkatnya intensitas serangan balasan dari Teheran. (zarahamala/arrahmah.id)
