Memuat...

Mengapa Hamas Belum Mengembalikan Semua Jenazah 'Israel'?

Zarah Amala
Sabtu, 18 Oktober 2025 / 27 Rabiulakhir 1447 10:15
Mengapa Hamas Belum Mengembalikan Semua Jenazah 'Israel'?
(QNN)

GAZA (Arrahmah.id) - Saat gencatan senjata antara 'Israel' dan pihak perlawanan memasuki pekan keduanya, masalah baru muncul, kali ini soal jenazah tentara 'Israel' yang dikuburkan oleh pasukan 'Israel' sendiri di bawah reruntuhan Gaza.

'Israel' mengancam akan melanjutkan genosida jika Hamas gagal menemukan semua jenazah tentara 'Israel' yang masih hilang di Gaza. Ancaman itu muncul bahkan ketika Presiden AS Donald Trump pada Rabu malam (15/10/2025) mengatakan bahwa Hamas “memang sedang berupaya mencari” sisa-sisa jenazah tersebut, dan kemungkinan sebagian besar terkubur di bawah reruntuhan rumah yang hancur. Trump menyatakan dirinya “optimistis” persoalan itu akan terselesaikan, meski pejabat 'Israel' terus memperkeruh situasi.

Namun di Gaza, banyak warga Palestina memandang sengketa ini dengan rasa tidak percaya. Sementara tajuk utama media dunia terfokus pada nasib segelintir jenazah tentara 'Israel', lebih dari 9.000 warga sipil Palestina masih hilang di bawah reruntuhan, tubuh mereka tak pernah ditemukan selama berbulan-bulan, sebagian besar terkubur hidup-hidup, karena pengepungan dan serangan 'Israel' telah menghancurkan seluruh alat serta akses jalan untuk melakukan evakuasi.

Pengeboman besar-besaran 'Israel' di Jalur Gaza bukan hanya menewaskan puluhan ribu warga sipil, tetapi juga menimbun para tawanan 'Israel' yang ingin mereka bebaskan sendiri. Apa yang semula diklaim sebagai operasi untuk “membebaskan tawanan Israel”, kini justru meninggalkan kuburan massal, rumah sakit yang hancur, dan hamparan puing tak terlintasi.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sejak genosida 'Israel' dimulai pada 7 Oktober 2023, lebih dari 70.000 warga Palestina tewas dan 170.000 lainnya luka-luka. Ribuan lainnya masih terperangkap di bawah bangunan runtuh, sementara tim penyelamat tidak memiliki alat berat, bahan bakar, maupun peralatan keselamatan dasar untuk menggali reruntuhan.

Tim pertahanan sipil mengatakan bahkan operasi penyelamatan paling sederhana pun mustahil dilakukan. Banyak wilayah masih berada di bawah kendali militer 'Israel' atau tertutup kawah bom, dan mereka yang mencoba mencapai reruntuhan sering kali harus menggali dengan tangan kosong.

Mengapa Hamas Tak Bisa Menemukan Semua Jenazah Tentara 'Israel'

Ada empat hambatan utama yang membuat sulitnya pencarian sisa jenazah tentara 'Israel' di Gaza:

  1. Kerusakan masif: Beberapa jenazah diyakini terkubur di bawah tumpukan puing yang sangat besar akibat pemboman 'Israel', membutuhkan alat berat dan teknologi pemindaian canggih.

  2. Akses terbatas: Lebih dari separuh wilayah Gaza masih berada di bawah kendali militer 'Israel', membuat tim Palestina tak bisa bergerak bebas maupun bekerja dengan aman.

  3. Informasi hilang: Banyak pejuang perlawanan yang sempat menjaga atau mencatat lokasi para tawanan telah terbunuh dalam serangan udara 'Israel', sehingga informasi penting ikut hilang.

  4. Kendali terfragmentasi: Sebagian tawanan dipegang oleh faksi-faksi kecil di luar sayap militer Hamas (Brigade Al-Qassam), menambah ketidakpastian lokasi mereka.

Selain itu, blokade 'Israel' masih menghalangi masuknya alat berat dan buldoser ke Jalur Gaza, sehingga memperlambat upaya menemukan jenazah tentara 'Israel' yang tewas akibat bombardemen mereka sendiri.

Gaza juga tidak memiliki fasilitas uji DNA untuk mengidentifikasi sisa tubuh yang membusuk. Laboratorium dengan teknologi PCR (polymerase chain reaction) dibutuhkan untuk mengekstrak materi genetik, hal yang mustahil dilakukan di tengah blokade.

Gencatan Senjata Mulai Retak

Sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 11 Oktober, Kementerian Kesehatan mencatat 23 warga Palestina tewas dan 122 lainnya luka-luka akibat pelanggaran 'Israel'. Tim penyelamat menemukan 381 jenazah baru dari bawah reruntuhan, sementara Israel telah menyerahkan kembali 120 jenazah Palestina tak dikenal yang sebelumnya diculik.

Hamas sejauh ini telah mengembalikan 10 dari 28 jenazah tentara 'Israel' yang tercantum dalam perjanjian gencatan senjata. Sisanya, menurut Hamas, “terkubur terlalu dalam untuk bisa dijangkau oleh tim saat ini.”

Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steven Witkoff, mengatakan kepada The New York Post bahwa ia tetap yakin semua jenazah tentara 'Israel' “pada akhirnya akan dikembalikan,” sejalan dengan optimisme Trump, meskipun 'Israel' terus meningkatkan ancamannya.

Para pengamat menilai pemerintahan Netanyahu bertanggung jawab penuh atas keterlambatan ini. Mereka menegaskan bahwa serangan udara 'Israel' sendirilah yang menghancurkan wilayah tempat para tawanan ditahan, sehingga proses pencarian kini menjadi nyaris mustahil.

“Pendudukanlah yang menciptakan kenyataan ini,” kata Hamas dalam sebuah pernyataan. “Mereka menghancurkan terowongan dan rumah tempat para tawanan berada, lalu menyalahkan orang lain atas akibat dari pemboman mereka sendiri.” (zarahamala/arrahmah.id)