KABUL (Arrahmah.id) - Zabihullah Mujahid, juru bicara Imarah Islam Afghanistan, mengatakan bahwa pemerintah sipil Pakistan tertarik untuk menjalin hubungan dengan Afghanistan berdasarkan kepentingan bersama, tetapi militer tidak mengizinkannya.
Dalam wawancara dengan Khyber TV, Mujahid mengatakan bahwa elemen-elemen di dalam militer Pakistan sengaja berupaya merusak hubungan kedua negara.
"Utusan khusus Pakistan untuk Afghanistan, Sadiq Khan, berada di Kabul dan melakukan pembicaraan positif dengan para pejabat Afghanistan, tetapi pada periode yang sama, Pakistan melancarkan serangan di wilayah Afghanistan. Pemerintah sipil berusaha membangun hubungan, tetapi militer justru merusaknya," tambahnya, lansir Tolo News (1/11/2025).
Mujahid mencatat bahwa penutupan perlintasan di sepanjang Garis Durand oleh Pakistan telah menyebabkan kerugian besar bagi para pedagang di kedua belah pihak, dan ia menekankan bahwa isu-isu tersebut harus dipisahkan dari politik.
Menanggapi pertanyaan tentang kekhawatiran Pakistan atas laporan pembangunan bendungan di Sungai Kunar, ia mengatakan bahwa pembangunan dan aktivitas lainnya di wilayah Afghanistan sepenuhnya merupakan hak Afghanistan. "Jika bendungan dibangun di Sungai Kunar, itu tidak akan membahayakan Pakistan. Airnya akan terus mengalir ke arah alaminya; hanya akan digunakan di sepanjang jalan," ujarnya.
Mujahid juga mengomentari hubungan Afghanistan-Pakistan pada masa mantan Perdana Menteri Pakistan Imran Khan, dengan mengatakan: "Selama era Imran, hubungan kedua negara baik, terutama dalam perdagangan, upaya pengendalian TTP, dan bidang-bidang lainnya. Semuanya berjalan lancar."
Ia meminta Pakistan untuk membagikan informasi apa pun yang dimilikinya tentang aktivitas teroris di tanah Afghanistan kepada Imarah Islam agar tindakan yang tepat dapat diambil.
"Pihak Pakistan ingin kami juga mencegah insiden yang terjadi di dalam Pakistan, tetapi itu di luar kendali kami. Imarah Islam tidak menginginkan ketidakamanan di Pakistan dan tetap berkomitmen untuk memastikan tidak ada ancaman yang muncul dari wilayah Afghanistan," ujarnya.
Mujahid berharap putaran perundingan berikutnya antara Kabul dan Islamabad akan melibatkan diskusi yang jujur dan substantif untuk menemukan solusi jangka panjang bagi masalah bilateral.
Putaran pembicaraan berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 5 November. (haninmazaya/arrahmah.id)
