KAIRO (Arrahmah.id) -- Wacana pembentukan aliansi strategis baru antara Arab Saudi, Turki, dan Mesir yang disebut-sebut berpotensi menjadi “NATO ala negara Islam” memicu perdebatan luas di kawasan Timur Tengah. Gagasan tersebut mencuat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik regional serta kebutuhan negara-negara Muslim besar untuk memperkuat koordinasi pertahanan dan keamanan kolektif.
Dilansir Asia Times (2/2/2026), diskusi mengenai kerja sama militer lebih erat di antara tiga negara berpengaruh itu muncul sebagai respons terhadap dinamika konflik regional dan perubahan konstelasi kekuatan global. Wacana ini juga dikaitkan dengan kemungkinan keterlibatan negara lain seperti Pakistan maupun Indonesia dalam skema kerja sama strategis yang lebih luas.
Sejumlah analis internasional menilai istilah “NATO Arab-Islam” lebih merupakan spekulasi politik ketimbang proyek aliansi formal yang sudah disepakati. Hingga kini belum ada pengumuman resmi pembentukan pakta pertahanan bersama layaknya NATO, yang menuntut komitmen keamanan kolektif dan struktur militer terpadu.
Namun, tanda-tanda peningkatan koordinasi regional memang terlihat melalui berbagai forum diplomasi dan kerja sama keamanan. Arab Saudi dan Mesir misalnya kerap mengambil posisi bersama dalam isu keamanan kawasan, termasuk dalam pernyataan solidaritas terhadap Suriah serta kritik terhadap serangan militer yang dinilai mengancam stabilitas regional.
Selain itu, peran Turki sebagai anggota NATO yang memiliki kekuatan militer signifikan membuatnya dipandang sebagai aktor kunci dalam setiap gagasan aliansi keamanan baru di dunia Muslim. Turki telah lama menjadi kontributor utama NATO dengan kemampuan militer besar dan pengalaman operasi internasional, sehingga dianggap memiliki kapasitas memimpin kerja sama pertahanan regional.
Di sisi lain, hubungan pertahanan negara-negara tersebut dengan kekuatan Barat masih kuat. Arab Saudi misalnya baru-baru ini ditetapkan Amerika Serikat sebagai sekutu utama non-NATO, yang menandakan bahwa arsitektur keamanan kawasan masih bergantung pada jaringan aliansi global yang ada.
Pengamat hubungan internasional menilai bahwa wacana “NATO Arab-Islam” lebih realistis dipahami sebagai upaya memperkuat koordinasi militer, diplomasi, dan keamanan bersama di antara negara-negara Muslim besar, bukan pembentukan aliansi militer formal dalam waktu dekat. Meski demikian, meningkatnya kerja sama regional tetap berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan geopolitik di Timur Tengah dan dunia Islam dalam beberapa tahun mendatang. (hanoum/arrahmah.id)
