Memuat...

Panglima Militer Zionis Batalkan Kunjungan ke AS usai Gencatan Senjata Gaza Gagal

Zarah Amala
Senin, 4 Agustus 2025 / 11 Safar 1447 09:31
Panglima Militer Zionis Batalkan Kunjungan ke AS usai Gencatan Senjata Gaza Gagal
Kepala Staf Angkatan Bersenjata 'Israel', Letnan Jenderal Eyal Zamir (via X)

GAZA (Arrahmah.id) - Kepala Staf Angkatan Bersenjata 'Israel', Letnan Jenderal Eyal Zamir, membatalkan kunjungan tingkat tinggi ke Amerika Serikat yang sebelumnya dijadwalkan pada Selasa (5/8/2025), demikian diungkap Jerusalem Post pada Sabtu (2/8). Keputusan ini diambil di tengah runtuhnya proses negosiasi gencatan senjata di Gaza, dan menunjukkan bahwa Zamir memilih tetap berada di 'Israel' saat situasi makin tak menentu.

Dalam rencana awal, kunjungan tersebut mencakup kehadirannya dalam upacara pensiun Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), serta sejumlah pertemuan dengan para pejabat senior Pentagon, intelijen, dan pimpinan organisasi Yahudi di AS.

Namun, menurut laporan tersebut, Zamir menetapkan syarat: ia hanya akan terbang ke Amerika jika ada kemajuan signifikan menuju kesepakatan gencatan senjata jangka panjang di Gaza. Karena tak ada titik terang dalam perundingan, ia memilih membatalkan perjalanan.

Keputusan ini juga mencerminkan retaknya hubungan antara pimpinan politik dan militer 'Israel' terkait strategi perang dan nasib para tawanan 'Israel' yang masih ditahan di Gaza. Jerusalem Post menulis bahwa pembatalan ini menyampaikan pesan ganda: di satu sisi, mengakui pentingnya dialog langsung dengan Washington, namun di sisi lain menegaskan bahwa tanggung jawab moral dan operasional lebih besar dari sekadar jadwal diplomatik penuh gengsi.

Dalam kunjungan terbarunya ke garis depan Gaza, Zamir dilaporkan mengatakan kepada para komandan lapangan bahwa militer 'Israel' akan terus memberikan tekanan terhadap Hamas hingga semua tawanan kembali ke rumah.

Perundingan gencatan senjata antara 'Israel' dan Hamas, dengan mediasi Qatar dan Mesir, dimulai sejak 6 Juli lalu. Namun baru-baru ini, tim negosiator dari 'Israel' dan AS justru menarik diri, menandakan perundingan kembali buntu.

Hamas sendiri telah menawarkan untuk membebaskan seluruh tawanan 'Israel' secara serentak jika 'Israel' menghentikan agresinya, menarik pasukan dari Gaza, dan membebaskan para tahanan Palestina.

Namun, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menolak tawaran tersebut dan justru mengajukan tuntutan tambahan, termasuk pelucutan senjata kelompok perlawanan Palestina dan kembalinya pendudukan militer 'Israel' di Gaza. Banyak pihak menilai sikap ini bukan demi keamanan, tapi demi menyelamatkan karier politik Netanyahu yang kian goyah.

Sementara itu, keluarga para tawanan, termasuk mereka yang diduga telah gugur, terus menggelar aksi protes harian di depan kantor-kantor pemerintahan, menuntut langkah nyata dan segera untuk membawa pulang orang-orang tercinta mereka. (zarahamala/arrahmah.id)