GAZA (Arrahmah.id) - Pasukan 'Israel' kembali menewaskan puluhan warga Palestina di Gaza, termasuk sedikitnya 20 orang yang sedang mencari bantuan kemanusiaan, meskipun pemerintah Tel Aviv mengumumkan adanya “jeda kemanusiaan” selama 10 jam untuk distribusi bantuan.
Kementerian Kesehatan Gaza pada Senin pagi (28/7/2025) melaporkan bahwa setidaknya 100 warga Palestina syahid dan 382 lainnya terluka dalam 24 jam terakhir. Dengan demikian, jumlah korban sejak dimulainya agresi pada Oktober 2023 telah mencapai 59.921 orang syahid dan 145.233 orang terluka. Dalam periode sejak 18 Maret saja, tercatat 8.755 orang syahid dan 33.192 luka-luka.
Sementara itu, UNICEF memperingatkan bahwa anak-anak adalah kelompok yang paling menderita akibat strategi kelaparan yang diterapkan 'Israel' terhadap penduduk Gaza. Lembaga PBB itu mendesak agar bantuan kemanusiaan dalam jumlah cukup segera diizinkan masuk ke wilayah tersebut, untuk menyelamatkan nyawa yang tersisa.
Narasi ini kembali menyoroti bagaimana jeda-jeda kemanusiaan yang diumumkan oleh 'Israel' tampak lebih seperti ilusi, di mana bantuan tetap tidak memadai dan warga sipil, termasuk anak-anak, tetap menjadi sasaran.
Pemerintah Gaza pada Senin malam (28/7) menyatakan bahwa 'Israel' mengizinkan 87 truk bantuan masuk ke wilayah Gaza, namun sebagian besar dari truk tersebut dijarah di bawah pengawasan pasukan 'Israel'.
Dalam pernyataan yang dikutip oleh kantor berita Anadolu, Kantor Media Pemerintah Gaza menegaskan bahwa penjarahan itu terjadi “karena kekacauan yang sengaja diciptakan oleh pendudukan 'Israel'.” Pernyataan tersebut juga mengungkapkan bahwa bantuan baru diizinkan masuk setelah 11 warga Palestina dibantai oleh pasukan 'Israel'.
Kejadian ini menyoroti bagaimana distribusi bantuan kemanusiaan yang seharusnya menjadi upaya penyelamatan, justru dijadikan alat manipulasi dan kontrol, diiringi kekerasan serta pembiaran atas penjarahan yang terorganisir.
Situasi di Gaza semakin menunjukkan kegagalan komunitas internasional dalam melindungi warga sipil dari kekejaman yang terus berlangsung. Meskipun ada klaim jeda kemanusiaan, kenyataan di lapangan justru menunjukkan pembantaian yang berulang terhadap warga sipil yang putus asa mencari bantuan. Dengan puluhan ribu korban jiwa, sebagian besar di antaranya perempuan dan anak-anak, dunia tak bisa lagi berpaling dari tanggung jawab moral dan hukum untuk segera menghentikan kekejaman ini dan memastikan akses bantuan yang aman serta bermartabat bagi seluruh penduduk Gaza. (zarahamala/arrahmah.id)
