Memuat...

Pengadilan Militer Gaza Beri Yasser Abu Shabab Waktu 10 Hari untuk Menyerah

Zarah Amala
Kamis, 3 Juli 2025 / 8 Muharam 1447 10:18
Pengadilan Militer Gaza Beri Yasser Abu Shabab Waktu 10 Hari untuk Menyerah
Yasser Abu Shabab. (Foto: via media sosial)

GAZA (Arrahmah.id) - Pengadilan Revolusioner di Gaza memberikan tenggat waktu sepuluh hari kepada Yasser Abu Shabab, pemimpin milisi bersenjata yang didukung 'Israel', untuk menyerahkan diri dan diadili atas sejumlah tuduhan berat, termasuk pengkhianatan. Jika tidak, ia akan diadili secara in absentia.

Dalam pernyataan resmi pada Rabu (2/7/2025), Pengadilan Revolusioner yang berada di bawah Otoritas Kehakiman Militer Kementerian Dalam Negeri Gaza menyatakan bahwa keputusan ini diambil berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Palestina No. 16 Tahun 1960 serta Undang-Undang Prosedur Revolusioner Tahun 1979.

Abu Shabab didakwa melakukan pengkhianatan dan berkolaborasi dengan pihak musuh (Pasal 131), membentuk geng bersenjata (Pasal 176), dan memberontak dengan senjata (Pasal 168).

Buron Pengadilan

Pengadilan menegaskan bahwa jika Abu Shabab tidak menyerahkan diri dalam waktu yang ditentukan, ia akan dinyatakan sebagai buronan hukum dan diadili tanpa kehadiran. Masyarakat pun diminta melaporkan keberadaannya jika mengetahui, atau akan dianggap menyembunyikan buronan.

Otoritas keamanan Gaza telah memburu Abu Shabab sejak akhir tahun lalu, atas tuduhan membentuk kelompok bersenjata yang bekerja sama dengan 'Israel'. Ia diketahui bersembunyi di wilayah timur Rafah, yang saat ini dikuasai militer 'Israel'.

Menurut laporan, kelompok Abu Shabab terlibat dalam pembunuhan warga sipil, menyerang anggota perlawanan Palestina atas perintah 'Israel', serta mencuri bantuan kemanusiaan yang baru saja masuk dari perbatasan Kerem Shalom di tenggara Rafah.

Abu Shabab sebelumnya dijatuhi hukuman 25 tahun penjara sejak 2015 atas kasus peredaran dan perdagangan narkoba. Ia melarikan diri dari penjara Khan Yunis pada awal serangan 'Israel' ke Gaza, Oktober 2023, saat terjadi gelombang pengeboman yang menyebabkan kekacauan di fasilitas penahanan.

Tak lama setelah kabur, ia kembali menjalin kontak dengan intelijen 'Israel' dan mulai membentuk jaringan bersenjata dari Rafah, kota asalnya.

Didukung Shin Bet

Surat kabar 'Israel' Maariv melaporkan bahwa badan intelijen dalam negeri 'Israel' , Shin Bet, berada di balik pembentukan kelompok Abu Shabab. Kepala Shin Bet, Ronen Bar, dikabarkan mengusulkan inisiatif ini kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebagai bagian dari proyek percontohan untuk menciptakan kekuasaan alternatif bagi Hamas di wilayah Gaza tertentu.

Dalam rencana tersebut, 'Israel' secara terkontrol mendistribusikan senjata kepada anggota geng, yang sebagian besar direkrut dari kalangan kriminal untuk dijadikan tentara bayaran.

Menurut laporan Al Jazeera, pembentukan milisi pro-'Israel' ini merupakan bagian dari strategi 'Israel' untuk menciptakan kekacauan dan mengacaukan stabilitas keamanan di Jalur Gaza. Dengan mendukung kelompok-kelompok bersenjata seperti ini, 'Israel' berupaya mengendalikan distribusi bantuan dan memperburuk kelaparan yang kini mengancam lebih dari dua juta warga Gaza. (zarahamala/arrahmah.id)