DARFUR (Arrahmah.id) - Para penyintas pembantaian El-Fasher menggambarkan kekejaman mengerikan yang dilakukan oleh Pasukan Dukungan Cepat (RSF) di ibu kota Darfur Utara, Sudan, pada akhir Oktober lalu, termasuk pemerkosaan terhadap perempuan, eksekusi massal keluarga, dan jenazah yang dibiarkan tergeletak di pinggir jalan.
Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serangan dimulai pada 25 Oktober, ketika pasukan RSF memasuki kota El-Fasher dan melancarkan gelombang kekerasan yang menghancurkan sebagian besar kota. Saksi mata menyebut, pasukan tersebut menyerang warga sipil secara membabi buta, menyerbu rumah dan rumah sakit, menjarah properti, serta mengeksekusi orang-orang yang berusaha melarikan diri.
Menteri Negara Bidang Kesejahteraan Sosial Sudan, Salima Ishaq, mengatakan bahwa sedikitnya 300 perempuan dibunuh dalam dua hari pertama penyerbuan RSF, sementara banyak lainnya mengalami kekerasan seksual dan penyiksaan. “Siapa pun yang mencoba keluar dari El-Fasher menuju Tawila berada dalam bahaya. Jalan itu telah menjadi jalan kematian,” katanya.
Pada 29 Oktober, kelompok bersenjata menyerang Rumah Sakit Bersalin El-Fasher, menewaskan sedikitnya 460 orang, termasuk pasien, pengunjung, dan tenaga kesehatan, menurut laporan PBB. Jumlah korban sesungguhnya dikhawatirkan jauh lebih tinggi.
Kesaksian Para Penyintas
Ribuan warga yang selamat melarikan diri melalui jalur sepanjang 50 kilometer menuju Tawila, yang kini menampung lebih dari 620.000 pengungsi hidup dalam kondisi sangat memprihatinkan.
Kesaksian yang dikumpulkan oleh UNFPA dan mitra kemanusiaannya menggambarkan tingkat kekejaman yang luar biasa.
Hani (24) menceritakan dirinya satu dari hanya empat orang yang selamat dari rombongan lebih dari 200 orang yang melarikan diri dari kota. “RSF menembaki kami tanpa bertanya apa pun,” katanya. “Mereka memaksa kami berbaring, dua tetanggaku tewas di sampingku. Lalu mereka menyalakan kendaraan dan melindas orang-orang yang masih hidup. Setelah itu mereka menuntut tebusan; yang tak mampu membayar dibunuh, termasuk anak-anak dan orang tua.”
Asmaa (26) mengatakan suaminya dieksekusi setelah membayar tebusan untuk membebaskannya dan anak-anak mereka. “Mereka membunuh suamiku di depan mataku,” ujarnya.
Salam (19) menceritakan dirinya diperkosa oleh tentara RSF setelah dipisahkan dari rombongan, sementara Alaa (40) menggambarkan perjalanan empat hari berjalan kaki untuk mencapai tempat aman. “Mereka membunuh hampir semua orang di kota. Mereka memperkosa banyak perempuan dan mencuri segalanya dari kami. Mereka meninggalkan kami tanpa apa pun,” katanya.
Pemerintah Sudan dalam laporannya kepada Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa menyebut tindakan RSF di El-Fasher sebagai “kekejaman mengerikan” dan menuduh kelompok itu melakukan pembersihan etnis secara sistematis.
Pemimpin RSF, Mohamed Hamdan Dagalo (dikenal sebagai Hemedti), mengakui telah terjadi “pelanggaran” dan mengklaim pihaknya telah meluncurkan penyelidikan internal.
Kekerasan di El-Fasher mencerminkan konflik etnis dan politik yang telah lama berakar di Darfur, di mana kelompok penggembala Arab nomaden kerap berkonflik dengan kelompok petani non-Arab seperti Fur, Zaghawa, dan Massalit akibat perebutan lahan dan sumber daya, diperburuk oleh kebijakan negara yang berpihak pada kelompok Arab.
Di bawah rezim mantan presiden Omar al-Bashir, pemerintah mempersenjatai milisi Arab yang dikenal sebagai Janjaweed untuk menumpas pemberontakan kelompok non-Arab, sebuah kampanye yang kemudian oleh PBB disebut sebagai genosida.
Pasukan RSF tumbuh dari milisi tersebut dan sejak itu dituduh melanjutkan kampanye kekerasan etnis yang sama.
Laporan lembaga HAM dan badan PBB dalam beberapa bulan terakhir mendokumentasikan pembunuhan massal, pemerkosaan, dan pengusiran paksa di seluruh Darfur, terutama di wilayah Darfur Barat dan Darfur Utara, di mana pasukan RSF menargetkan warga sipil non-Arab. Pengamat memperingatkan bahwa kampanye di El-Fasher bisa menjadi eskalasi pembersihan etnis paling parah dalam beberapa tahun terakhir.
Perang antara tentara Sudan dan RSF, yang kini memasuki tahun ketiga, telah menewaskan puluhan ribu orang dan memaksa sekitar 13 juta orang mengungsi. RSF kini menguasai seluruh lima negara bagian Darfur, sementara tentara mengendalikan sebagian besar wilayah lainnya, termasuk ibu kota Khartoum. (zarahamala/arrahmah.id)
