Memuat...

Peringatan Hari Santri: Mengenang Perjuangan Santri sebagai Pelopor Penegak Syariat Islam

Oleh Umi Fahri
Sabtu, 8 November 2025 / 18 Jumadilawal 1447 10:36
Peringatan Hari Santri: Mengenang Perjuangan Santri sebagai Pelopor Penegak Syariat Islam
Sejumlah santri mengikuti kegiatan doa Istighosah di Pondok Pesantren An-Nuqthah, Kota Tangerang, Banten, Kamis (22/10/2020). Kegiatan tersebut digelar untuk memperingati Hari Santri Nasional. (Foto: Kompas)

Hari santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober, merupakan momen penting bagi bangsa Indonesia, untuk menghargai peran para santri dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan negara. Hal ini bukan sekedar peringatan saja, melainkan sebagai pengingat akan kontribusi besar pesantren dan santri sebagai pilar pendidikan, terlebih dalam bidang agama.

Ide penetapan Hari Santri Nasional bermula dari Resolusi Jihad, yang dikeluarkan oleh Nahdatul Ulama (NU) pada 22 Oktober 1945. Yang dipimpin oleh KH Hasyim Asy'ari pendiri NU menyatakan bahwa, membela tanah air dari penjajah adalah kewajiban bagi setiap muslim. Resolusi ini akhirnya menjadi pemicu utama pertempuran Surabaya pada 10 November 1945, yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Pada tahun 2015, Presiden Joko Widodo secara resmi menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional, melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Penetapan ini dilakukan di Masjid Istiqlal Jakarta, sebagai bentuk pengakuan negara atas jasa para santri. Dalam pernyataannya, bahwa santri bukan hanya penjaga agama, tetapi juga pejuang yang rela berkorban nyawa. (Kompasiana, 29/10/2025)

Dalam kenyataannya, peringatan Hari Santri terkesan hanya sebagai seremonial semata. Upacara dan festival mungkin perlu sebagai wujud rasa syukur dan kebanggaan. Namun esensi santri sejati bukankah pada perayaan, melainkan pada pengabdian. Santri yang mendalami agama secara komprehensif dan kemudian menjadikannya rujukan, bahkan pegangan dalam menata kehidupan umat adalah mereka yang fakih fiddiin.

Santri merupakan generasi penerus bangsa yang berakar kuat pada nilai-nilai agama, moralitas, dan kebangsaan. Di era modern seperti sekarang, peran santri tidak hanya terbatas pada kehidupan pesantren, akan tetapi merambah ke berbagai sektor kehidupan termasuk teknologi, ekonomi, dan pembangunan Nasional. Oleh karena itu, memahami peran santri di zaman ini menjadi penting, agar kontribusi terhadap bangsa dapat terus berkembang dan relevan.

Para santri dididik untuk memegang teguh ajaran Islam seperti halnya kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Dengan bekal ilmu agama yang kuat, santri mampu menjadi penjaga moral bangsa di tengah tantangan globalisasi, yang sering mengikis nilai-nilai luhur masyarakat.

Istilah kata santri, sering juga dinisbahkan kepada para pemuda yang sedang menimba ilmu agama dari para ulama di lembaga pendidikan yang disebut pesantren. Santri dan ulama sejatinya merupakan para intelektual muslim, yang berperan sangat besar dalam pembangunan dan menjaga peradaban Islam, juga eksistensi bangsa ini di bumi Nusantara. Merekalah yang mengkaji dan mempraktikkan ajaran-ajaran Islam, kemudian menyebarluaskan ke berbagai pelosok negeri, hingga ajaran Islam pun menjadi identitas dan karakter bangsa.

Semua itu mereka lakukan tentu bukan karena naluri semata, melainkan dorongan ideologis yang lahir dari kesadaran, bahwa Islam adalah agama sempurna serta unggul di atas sistem-sistem lainnya.

Perjuangan santri dan ulama sejatinya belum selesai. Bagaimana tidak? Faktanya, penjajahan fisik dan militer di negeri ini memang sudah berakhir, tetapi praktik penjajahan tidak lagi berbentuk okupasi atau kolonialisme, melainkan berubah menjadi neoimperalisme yang lebih halus dan sangat berbahaya. Hal itu akan menyusup ke berbagai sendi kehidupan, baik melalui kebijakan politik, ekonomi, sosial dan budaya, hukum maupun propaganda media.

Dalam konteks inilah para santri dan ulama adalah bagian dari kaum intelektual, yang diharapkan mampu membaca dan memahami keadaan. Sehingga peran mereka sebagai motor perubahan, sekaligus pemimpin perlawanan pun benar-benar sangat diharapkan. Terlebih jumlah secara kuantitatif yang cukup besar, sehingga keberadaannya tidak mungkin diabaikan.

Dengan demikian, sejarah membuktikan bahwa ketika syariat Islam diterapkan secara menyeluruh dalam bingkai Daulah Islam, para santri dan ulama tampil sebagai pelopor kemajuan serta penjaga peradaban. Mereka tidak hanya berjuang di medan tempur, akan tetapi dalam hal pemikiran, pendidikan, dan sosial. Sebab itu, kebangkitan santri hari ini harus diarahkan pada perjuangan menegakkan kembali sistem Islam, yang mampu membawa rahmat bagi seluruh alam.

Mereka harus berani menjadi pelaku sejarah baru yang unggul, serta mampu membangun peradaban cemerlang yang berpijak pada nilai-nilai Islam semata. Untuk itu, hari santri bukan sekedar mengenang masa lalu, tapi mengaktifkan kembali semangat jihad intelektual dan spritual, untuk mengubah dunia menuju peradaban Islam yang mulia.

Wallahu a'lam bishawab

Editor: Hanin Mazaya

Hari Santri