(Arrahmah.id) - Peristiwa 11 September menjadi dalih bagi Amerika Serikat, bersama Inggris dan beberapa negara lain, untuk melancarkan invasi militer ke Irak pada 2003 dengan klaim bahwa negara tersebut memiliki senjata pemusnah massal.
Menurut statistik resmi, lebih dari 200.000 warga sipil dan antara 30.000 hingga 40.000 tentara Irak tewas dalam perang ini.
Perang Irak telah menyebabkan jutaan orang mengungsi dan menyebabkan anak-anak menderita malnutrisi dan trauma psikologis.
Setelah serangan 11 September 2001, Amerika Serikat, yang dipimpin oleh Presiden George W. Bush saat itu, melancarkan perang global melawan teror.
Irak menjadi salah satu target utama kebijakan ini. George Bush menuduh Saddam Hussein, Presiden Irak saat itu, memproduksi dan menimbun senjata pemusnah massal dan mendukung terorisme.
Meskipun tidak ada bukti kredibel yang pernah diajukan untuk klaim ini, pada Oktober 2002, Kongres AS mengesahkan tindakan militer terhadap Irak.
Pada Februari 2003, Menteri Luar Negeri AS saat itu, Colin Powell, berusaha membujuk Dewan Keamanan PBB untuk mendukung perang tersebut, tetapi gagal.
Para inspektur PBB tidak menemukan bukti senjata pemusnah massal di Irak, dan Dewan Keamanan tidak memberikan suara yang mendukung operasi militer.
Meskipun demikian, AS dan Inggris, bersama 29 negara lainnya, membentuk apa yang disebut “Coalition of the Willing.”
Pasukan dari Polandia, Jepang, Korea Selatan, Italia, dan Spanyol juga bergabung dengan pasukan AS dan Inggris dalam invasi tersebut.
Akhirnya, pada 20 Maret 2003, AS dan sekutunya melancarkan serangan militer besar-besaran ke Irak yang mengubah Timur Tengah selama beberapa dekade.
Tentara Irak dikalahkan hanya dalam tiga minggu. Baghdad jatuh ke tangan pasukan koalisi, dan pemerintahan Irak runtuh.
Setelah berbulan-bulan melarikan diri, Saddam Hussein ditangkap pada Juni 2004 dan diserahkan kepada pemerintah sementara Irak. Ia diadili atas kejahatan perang dan genosida, lalu dieksekusi dengan cara digantung pada 30 Desember 2006.
Saat itu, Presiden George W. Bush menyatakan: "Atas perintah saya, pasukan koalisi telah mulai menyerang target-target tertentu yang penting secara militer untuk melemahkan kemampuan Saddam Hussein berperang."
Perang tersebut menelan biaya yang sangat besar. Amerika Serikat menghabiskan lebih dari $845 miliar, sementara Inggris menghabiskan sekitar $9 miliar untuk invasi tersebut.
Ribuan tentara dan warga sipil tewas, dan jutaan warga Irak kehilangan rumah mereka.
Dampak kemanusiaannya sangat menghancurkan. Pada 2007, sekitar 28 persen anak-anak Irak menderita malnutrisi, dan hampir 70 persen mengalami masalah psikologis.
Pada 19 Agustus 2010, pasukan tempur AS terakhir meninggalkan Irak. Namun, sekitar 50.000 personel tetap bertugas melatih pasukan Irak hingga penarikan terakhir pasukan AS pada Desember 2011.
Menurut statistik PBB, pada akhir 2015, lebih dari 4,4 juta warga Irak telah mengungsi.
Meskipun Perang Irak menyebabkan jatuhnya pemerintahan Saddam Hussein, perang tersebut tidak membawa apa pun selain kehancuran, pengungsian, dan krisis kemanusiaan yang mendalam bagi rakyat Irak — meninggalkan salah satu perang paling mahal dan kontroversial di abad ke-21.
