Memuat...

PM Qatar Sebut Gencatan Senjata Gaza Tak Lengkap Tanpa Penarikan Penuh "Israel"

Hanin Mazaya
Sabtu, 6 Desember 2025 / 16 Jumadilakhir 1447 18:18
PM Qatar Sebut Gencatan Senjata Gaza Tak Lengkap Tanpa Penarikan Penuh "Israel"
PM Qatar. (Foto: X/@mathrubhumieng)

DOHA (Arrahmah.id) - Gencatan senjata yang telah berlangsung hampir dua bulan di Jalur Gaza tidak akan tuntas hingga pasukan "Israel" menarik diri dari wilayah Palestina berdasarkan rencana perdamaian yang didukung oleh Washington dan PBB, ujar Perdana Menteri Qatar, Sabtu (6/12/2025).

“Saat ini kita berada di momen kritis. Gencatan senjata tidak dapat tuntas kecuali pasukan 'Israel' ditarik sepenuhnya, (dan) stabilitas di Gaza kembali terjaga,” ujar Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, di Forum Doha, sebuah konferensi diplomatik tahunan di ibu kota negara Teluk tersebut, seperti dilansir AFP.

Qatar, bersama Amerika Serikat dan Mesir, membantu mengamankan gencatan senjata yang telah lama sulit dicapai di Gaza, yang mulai berlaku pada 10 Oktober dan sebagian besar telah menghentikan pertempuran selama dua tahun antara "Israel" dan Hamas.

Berdasarkan fase kedua kesepakatan tersebut, yang belum dimulai, "Israel" akan menarik diri dari posisinya di wilayah tersebut, otoritas sementara akan mengambil alih pemerintahan, dan pasukan stabilisasi internasional (ISF) akan dikerahkan.

Negara-negara Arab dan Muslim ragu-ragu untuk berpartisipasi dalam pasukan stabilisasi baru, yang pada akhirnya dapat memerangi kelompok perlawanan Palestina.

Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, yang juga berbicara di forum tersebut, mengatakan perundingan mengenai pasukan tersebut sedang berlangsung dan masih terdapat pertanyaan kritis mengenai struktur komandonya dan negara mana yang akan berkontribusi.

Namun, tujuan pertamanya, kata Fidan, "haruslah memisahkan Palestina dari 'Israel'."

"Ini harus menjadi tujuan utama kita. Setelah itu, kita dapat mengatasi isu-isu lain yang tersisa," tambahnya.

Hamas juga seharusnya melucuti senjata berdasarkan rencana 20 poin yang pertama kali diuraikan oleh Presiden AS Donald Trump, dengan anggota yang menonaktifkan senjata mereka diizinkan meninggalkan Gaza. Kelompok perlawanan tersebut telah berulang kali menolak usulan itu.

Turki telah mengindikasikan keinginannya untuk berpartisipasi dalam pasukan stabilisasi, tetapi upayanya dipandang negatif di "Israel", yang menganggap Ankara terlalu dekat dengan Hamas.

"Saya pikir satu-satunya cara yang layak untuk mengakhiri perang ini adalah dengan terlibat secara setia dan tegas dalam perundingan damai," kata Fidan.

Sheikh Mohammed mengatakan Qatar dan negara-negara penjamin gencatan senjata lainnya, Turki, Mesir, dan AS, "bersatu untuk mendorong kemajuan bagi fase selanjutnya" dari kesepakatan tersebut.

"Dan fase selanjutnya ini juga bersifat sementara dari perspektif kami," ujarnya.

"Jika kita hanya menyelesaikan apa yang terjadi dalam dua tahun terakhir, itu tidak cukup," lanjutnya, menyerukan "solusi abadi yang memberikan keadilan bagi kedua belah pihak." (haninmazaya/arrahmah.id)