Memuat...

Rafah Membara Lagi: "Israel" Gempur Gaza untuk Lindungi Milisi Abu Syabab, Menteri Ekstrem Teriakkan Perang!

Samir Musa
Ahad, 19 Oktober 2025 / 28 Rabiulakhir 1447 20:11
Rafah Membara Lagi: "Israel" Gempur Gaza untuk Lindungi Milisi Abu Syabab, Menteri Ekstrem Teriakkan Perang!
Tank-tank "Israel" saat melakukan penetrasi sebelumnya di Rafah (Getty).

GAZA (Arrahmah.id)  – Media "Israel" melaporkan bahwa pesawat tempur penjajah melancarkan serangan udara ke Kota Rafah di selatan Jalur Gaza pada Ahad (19/10) pagi, menyusul baku tembak antara pasukan pendudukan dan kelompok bersenjata di wilayah tersebut. Serangan juga dilaporkan menghantam kawasan Jabalia di utara.

Sementara itu, dua menteri ekstrem sayap kanan, Itamar Ben Gvir dan Bezalel Smotrich, menyerukan kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu agar segera memerintahkan tentara melanjutkan pertempuran secara penuh di Gaza.

Menurut laporan Channel 12 "Israel", serangan di Rafah dilakukan untuk melindungi milisi yang dipimpin oleh Yasir Abu Syabab. Laporan itu juga menyebut terjadi ledakan pada sebuah alat berat milik militer penjajah di kawasan Rafah.

Channel 14 menambahkan bahwa serangan udara tersebut dilakukan sebagai “respons terhadap pelanggaran gencatan senjata” oleh pihak Palestina.

Di sisi lain, kantor Netanyahu mengonfirmasi bahwa ia meninggalkan rapat kabinet untuk melakukan pertemuan keamanan mendesak guna menilai situasi terbaru di Gaza bersama Menteri Pertahanan dan pejabat militer senior.

Seruan Keras untuk Lanjutkan Perang

Radio militer "Israel" mengutip sumber militer yang mengatakan bahwa “terjadi bentrokan berbahaya di Rafah pagi ini,” seraya menambahkan bahwa kontak senjata masih terus berlangsung.

Menanggapi perkembangan ini, Menteri Keamanan Nasional "Israel" Itamar Ben Gvir mendesak Netanyahu agar segera memerintahkan tentara melanjutkan serangan ke Gaza “dengan seluruh kekuatannya.”

Ben Gvir menuduh bahwa keyakinan bahwa Hamas akan berhenti berperang atau mematuhi kesepakatan adalah “bahaya besar bagi keamanan Israel.”

Sementara itu, Ketua Partai Yisrael Beiteinu (Avigdor Lieberman) menyatakan bahwa hanya “bahasa kekuatan” yang bisa digunakan untuk menghadapi Timur Tengah, sambil menuding Hamas “melampaui batas karena ada yang membiarkannya.”

“Garis Kuning” di Gaza

Seorang perwira militer "Israel" mengungkap bahwa Hamas melancarkan serangan terhadap pasukan penjajah di luar wilayah yang disebut “garis kuning”, yang ditetapkan sebagai batas zona militer "Israel" setelah gencatan senjata.

Sejak pagi, pasukan penjajah mulai menandai “garis kuning” itu secara fisik dengan blok beton dan tanda logam bercat kuning.

Menurut surat kabar Times of Israel, Menteri Pertahanan Yisrael Katz telah memerintahkan penandaan batas tersebut agar “terlihat jelas” oleh penduduk Gaza. Katz menegaskan bahwa tanda-tanda itu menjadi peringatan bagi warga Gaza dan para pejuang perlawanan bahwa “setiap pelanggaran atau upaya menyeberang akan dibalas dengan tembakan.”

Deretan Pelanggaran Gencatan Senjata

Kantor media pemerintah Gaza pada Sabtu (18/10) menyatakan bahwa penjajah “Israel” telah melakukan 47 pelanggaran serius sejak pengumuman berakhirnya perang.

Dalam pernyataannya, kantor media menyebut pelanggaran itu meliputi penembakan langsung terhadap warga sipil, pengeboman, penangkapan warga sipil, hingga serangan menggunakan drone bersenjata (quadcopter) di wilayah padat penduduk.

Pernyataan itu menegaskan bahwa tindakan-tindakan tersebut “mencerminkan kelanjutan pola agresi militer ‘Israel’ meski telah diumumkan penghentian perang.”

Latar Kesepakatan

Pada 9 Oktober lalu, Hamas dan “Israel” mencapai kesepakatan gencatan senjata serta pertukaran tawanan melalui mediasi internasional berdasarkan rencana yang diajukan oleh Presiden AS Donald Trump.

Tahap pertama kesepakatan mulai berlaku sehari kemudian, mencakup pengumuman akhir perang, penarikan pasukan “Israel” ke belakang “garis kuning”, pemulangan tawanan “Israel” yang masih hidup maupun tewas, serta pembebasan ratusan tahanan Palestina dari penjara penjajah.

(Samirmusa/arrahmah.id)