Memuat...

Rata-rata Hampir Dua Anak Tewas Setiap Hari di Gaza Sejak Gencatan Senjata

Zarah Amala
Sabtu, 22 November 2025 / 2 Jumadilakhir 1447 10:16
Rata-rata Hampir Dua Anak Tewas Setiap Hari di Gaza Sejak Gencatan Senjata
'Israel' terus melanggar gencatan senjata di Gaza. (Foto: media sosial, via QNN)

GAZA (Arrahmah.id) - Rata-rata hampir dua anak tewas setiap hari dalam insiden terkait konflik di Gaza sejak gencatan senjata dimulai, UNICEF memperingatkan pada Jumat (21/11/2025).

“Sejak 11 Oktober, saat gencatan senjata diberlakukan, sedikitnya 67 anak telah terbunuh dalam insiden terkait konflik di Jalur Gaza, dan puluhan lainnya terluka,” kata juru bicara Ricardo Pires dalam konferensi pers di Jenewa, sebagaimana dilaporkan kantor berita Anadolu.

Ia mengatakan angka tersebut berarti “rata-rata hampir dua anak tewas setiap hari sejak gencatan senjata berlaku dan kesepakatan untuk menghentikan pembunuhan itu akhirnya tercapai.”

Pires menekankan bahwa di balik setiap angka ada seorang anak yang hidupnya direnggut secara brutal, bukan sekadar statistik.

Pires menceritakan kondisi yang disaksikan tim UNICEF di lapangan, anak-anak tidur di ruang terbuka dengan anggota tubuh diamputasi, anak-anak lain menjadi yatim piatu dan gemetar ketakutan dalam tenda-tenda darurat yang terendam air dan tanpa martabat.

“Saya melihat sendiri hal ini saat terakhir kali berada di sana pada Agustus. Realitas yang dipaksakan atas Gaza tetap sangat sederhana: tidak ada tempat yang aman bagi mereka, dan dunia tidak boleh menormalisasi penderitaan mereka,” tegasnya.

Meski memperluas operasinya, UNICEF mengatakan upaya mereka masih jauh dari cukup. Pires menegaskan bahwa lembaganya “bisa melakukan jauh lebih banyak jika bantuan yang benar-benar dibutuhkan bisa masuk lebih cepat.”

Memperingatkan kondisi musim dingin yang memperburuk risiko bagi ratusan ribu anak yang mengungsi di tempat penampungan, Pires mengatakan “taruhannya sangat tinggi,” karena “musim baru ini adalah pengganda ancaman.”

Anak-anak, katanya, “tidak punya pemanas, tidak punya isolasi, dan selimut yang dimiliki sangat sedikit.” Infeksi pernapasan meningkat, sementara air tercemar memicu penyebaran diare.

Ia menambahkan bahwa “anak-anak masih memanjat reruntuhan bangunan tanpa alas kaki.”

“Terlalu banyak anak yang sudah membayar harga tertinggi, dan terlalu banyak yang masih membayarnya, bahkan di bawah gencatan senjata. Dunia berjanji perang akan berhenti dan kita akan melindungi mereka,” ujarnya. “Sekarang kita harus membuktikan janji itu.”

Puluhan keluarga Palestina mengungsi pada Jumat dari lingkungan Al-Tuffah dan Shejaiya di Gaza timur setelah 'Israel' melakukan perluasan operasi militer di wilayah yang sebelumnya ditinggalkannya berdasarkan kesepakatan gencatan senjata.

Pasukan 'Israel' maju sekitar 300 meter ke dalam dua wilayah tersebut sejak Rabu (19/11), terus meledakkan kendaraan jebakan dan melakukan penembakan artileri, kata para saksi kepada Anadolu.

Eskalasi ini memaksa warga meninggalkan tenda dan rumah-rumah rusak mereka; pengungsian telah berlangsung selama tiga hari terakhir.

Warga bergerak melalui gang-gang sempit di bawah suara tembakan dan gerakan tank, membawa barang yang bisa mereka selamatkan di gerobak kecil atau di pundak mereka, sementara anak-anak berlarian ketakutan di belakang.

Sejak gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober, keluarga yang kembali ke rumah-rumah mereka yang hancur hidup dalam ketidakpastian dan ketakutan akibat tembakan artileri dan serangan dari kendaraan militer 'Israel' di timur kota.

Dalam beberapa hari terakhir, tentara 'Israel' meledakkan kendaraan jebakan di bagian timur Al-Tuffah dan Shuja'iyya, menghancurkan wilayah luas yang masih mereka duduki di timur "garis kuning" serta mengubah zona sekitar menjadi sangat berbahaya.

'Israel' masih menguasai lebih dari 50 persen Jalur Gaza di bawah kesepakatan gencatan senjata, dengan “garis kuning” memisahkan wilayah yang dikuasai tentara dari kawasan permukiman warga Palestina. (zarahamala/arrahmah.id)