WASHINGTON – Sejumlah analis internasional memprediksi Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan segera meluncurkan serangan militer terbatas ke Iran. Langkah ini dinilai bertujuan untuk memperparah krisis internal pemerintah Iran sekaligus memberikan dukungan langsung kepada para demonstran yang terus memadati jalan-jalan di berbagai kota.
Prediksi ini menguat setelah Trump secara terbuka melalui pesan resminya meminta para demonstran Iran untuk terus melanjutkan aksi protes dan mulai mengambil alih lembaga-lembaga negara. Trump menegaskan bahwa "bantuan sedang dalam perjalanan" bagi para pendemo.
Profesor resolusi konflik internasional, Ibrahim Fraihat, menilai respons Washington kali ini jauh lebih cepat dibandingkan gelombang protes sebelumnya di Iran. Hanya dalam dua pekan, AS telah menetapkan "garis merah", menginstruksikan pengambilalihan institusi pemerintah, hingga mengerahkan kapal selam perang ke kawasan tersebut.
"Melalui tekanan masif ini, Trump memaksa Teheran memberikan konsesi besar pada program nuklir dan rudal mereka jika ingin menghindari serangan militer langsung," ujar Fraihat dalam program Beyond the News.
Senada dengan hal itu, mantan penasihat keamanan nasional AS, Mark Pfeifle, meyakini serangan tersebut akan bersifat mendadak namun terbatas. Target utamanya kemungkinan besar adalah markas militer, kepolisian, dan Garda Revolusi (IRGC) untuk meminimalkan korban sipil namun tetap memberi efek gentar bagi penguasa Iran.
Dalam operasi yang diprediksi akan terjadi dalam hitungan jam ini, 'Israel' disebut-sebut akan memainkan peran krusial, terutama di sektor intelijen, operasi siber, dan pengarahan agen di lapangan. Fraihat mencatat bahwa Tel Aviv telah berinvestasi besar-besaran dalam mendukung gelombang protes kali ini.
Di sisi lain, Direktur Peace Spirit Foundation for Diplomatic Studies, Hamid Reza Gholam, memperingatkan bahwa setiap serangan militer akan berdampak buruk bagi AS dan 'Israel'. Ia merujuk pada perang Juni lalu yang dianggapnya tidak memberikan hasil positif bagi Washington.
"Teheran akan membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan AS dan tentaranya di kawasan secara kuat. Hal ini bisa berdampak pada hasil Partai Republik di pemilu paruh waktu mendatang," kata Gholam.
Hingga saat ini, situasi di Iran dilaporkan makin mencekam. Berdasarkan data lembaga hak asasi manusia HRANA, jumlah korban tewas selama 17 hari aksi protes telah mencapai 2.403 jiwa. Teheran menuduh pembunuhan tersebut dilakukan secara sistematis oleh milisi yang didanai oleh Washington dan Tel Aviv. (zarahamala/arrahmah.id)
