Memuat...

Serangan Udara 'Israel' Tewaskan Belasan Warga Beirut, Kepala Staff Hizbullah Salah Satunya

Hanoum
Senin, 24 November 2025 / 4 Jumadilakhir 1447 04:52
Serangan Udara 'Israel' Tewaskan Belasan Warga Beirut, Kepala Staff Hizbullah Salah Satunya
Haytham Ali Tabatabai. [Foto: Press TV]

BEIRUT (Arrahmah.id) -- Militer 'Israel' melancarkan serangan udara ke Beirut, Lebanon, dan menargetkan pimpinan kelompok milisi Syiah Hizbullah. Akibat serangan itu, 13 orang dilaporkan tewas, salah satunya Haytham Ali Tabatabai, menurut Al Jazeera (23/11/2025).

Serangan terjadi di kawasan selatan Beirut, area padat penduduk yang berada di bawah komando Hizbullah. Menurut laporan Kementerian, 28 lainnya terluka dalam serangan yang terjadi pada Ahad (23/11) itu.

Kantor Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu mengungkap bahwa ini merupakan serangan terbaru terhadap target di Lebanon. Sebelumnya, 'Israel' dan Hizbullah sepakat gencatan senjata selama setahun.

"Beberapa saat lalu, di jantung Beirut, IDF menyerang Kepala Staff Hizbullah, yang telah memimpin pembangunan dan persenjataan kembali organisasi teroris tersebut," demikian pernyataan kantor perdana menteri, dikutip dari AFP (23/11).

"'Israel' bertekad bertindak untuk mencapai tujuannya di mana pun dan kapan pun," lanjut pernyataan tersebut.

Laporan AFP mengungkap serangan itu menghancurkan lantai tiga dan empat sebuah bangunan sembilan lantai. Ambulans langsung bersiaga di sekitar lokasi dan tim penyelamat memeriksa unit-unit apartemen.

Menurut laporan kantor Berita Nasional Lebanon (NNA), ada tiga rudal yang ditembakan ke arah bangunan di wilayah Haret Hreik. Rudal-rudal tersebut merusak sejumlah kendaraan serta bangunan di sekitarnya.

Serangan pada Ahad menjadi yang pertama di kawasan selatan Beirut sejak 5 Juni, saat 'Israel' menyerang pabrik drone milik Hizbullah. Serangan itu terjadi setelah serangan sebelumnya di kota selatan Aita al-Shaab, yang menurut Kementerian Kesehatan Lebanon menewaskan satu orang.

Hizbullah melemah setelah pertempuran dengan 'Israel', yang dimulai ketika kelompok itu mendukung sekutunya, Hamas, di Gaza pada Oktober 2023 melalui baku tembak lintas batas yang kemudian meningkat menjadi perang penuh selama dua bulan.

Lebanon sejak itu berada di bawah tekanan dari Israel dan Amerika Serikat untuk melucuti senjata Hizbullah. Namun, kelompok tersebut menolak tuntutan itu.

Netanyahu sebelumnya pada Ahad menegaskan bahwa 'Israel' akan melakukan "segala yang diperlukan" untuk menghentikan Hizbullah memulihkan kekuatan di Lebanon. (hanoum/arrahmah.id)