Memuat...

Setelah Tahunan Bisu, Media TV 'Israel' Mulai Memberontak Tel Aviv

Hanoum
Rabu, 10 September 2025 / 18 Rabiulawal 1447 03:39
Setelah Tahunan Bisu, Media TV 'Israel' Mulai Memberontak Tel Aviv
Acara bincang-bincang harian Channel 14, Hapatriotim (“The Patriots”) telah membuka jalan bagi pergeseran batas-batas wacana sipil di ruang media Israel. [Foto: YouTube]

TEL AVIV (Arrahmah.id) -- Setelah dua tahun bisu akan kondisi dan penderitaan warga Palestina di Gaza, beberapa stasiun televisi 'Israel' mulai membagikan gambar-gambar mengerikan anak-anak yang kekurangan gizi dan beberapa kisah yang diliput secara luas tentang kesulitan hidup sehari-hari warga Palestina.

Dalam sebuah laporan, seperti dilansir TRT (9/9/2025), perubahan ini cukup mengejutkan karena selama ini mereka terus menerus menyajikan kepada pemirsa mereka cerita-cerita yang menonjolkan kisah heroik dan kepahlawanan Israel, penderitaan keluarga para sandera, dan gugurnya prajurit (IDF) dalam pertempuran.

"Perubahan halus ini terjadi saat Israel menghadapi kemarahan global yang belum pernah terjadi sebelumnya atas perang genosida yang sedang dilakukan 'Israel' di Gaza," tulis laporan itu.

Hal yang paling krusial, perubahan sikap media 'Israel' ini dinilai mencerminkan perpecahan yang mendalam mengenai apakah invasi militer IDF ke Gaza harus dihentikan.

Perubahan haluan ini dianggap sebagai 'pemberontakan' meskipun protes yang semakin meningkat dan liputan media hanya berdampak kecil terhadap kebijakan Pemerintah 'Israel'.

"Bukan hanya peduli terhadap situasi di Gaza, tetapi juga dari perspektif 'Israel', apakah kita bertindak dengan benar dan sesuai dengan tujuan perang ini?" kata Eran Amsalem, profesor komunikasi di Universitas Ibrani 'Israel'.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu secara umum cenderung mengabaikan gerakan massa yang menyerukan diakhirinya perang yang difokuskan pada pengembalian para sandera.

Setelah serangan Hamas Banjir Al Aqsa pada 7 Oktober 2023 dan pertempuran regional selama dua tahun, pemberitaan yang memojokkan warga Palestina bahkan semakin berkurang daya tariknya.

Serangan kilat pasukan perlawanan Palestina yang dipimpin Hamas mengejutkan 'Israel'.

Sekitar 1.200 warga Israel tewas dalam serangan itu. Dari 251 orang yang disandera, 48 orang masih berada di Gaza — sekitar 20 di antaranya diyakini masih hidup — setelah sebagian besar lainnya dibebaskan melalui gencatan senjata atau kesepakatan lainnya.

Serangan ini dianggap sebagai serangan terburuk yang pernah terjadi di wilayah 'Israel' dan masih mendominasi siaran berita lokal.

Pada bulan-bulan awal, warga 'Israel' mendukung narasi 'Israel' setelah apa yang disebut sebagian orang sebagai 9/11 mereka, sementara media internasional segera mengalihkan fokus ke invasi mematikan IDF di Gaza.

'Israel' telah membunuh lebih dari 64.300 warga Palestina di Gaza sejak Oktober 2023.

Serangan genosida tersebut telah menghancurkan wilayah kantong Palestina tersebut, yang terancam kelaparan, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.

Kementerian tersebut merupakan bagian dari pemerintahan yang dipimpin Hamas dan dikelola oleh para profesional medis.

Angka-angkanya dianggap andal oleh badan-badan PBB dan banyak pakar independen.

'Israel' membantah angka-angka tersebut tetapi belum memberikan datanya sendiri.

"Selama sebagian besar perang, media 'Israel' sangat sedikit melaporkan penderitaan di Gaza, kelaparan, atau kehancuran," kata Raviv Drucker, seorang pembawa berita terkemuka 'Israel'.

"Kalaupun mereka melaporkannya, itu hanya dari perspektif 'Israel'," jelasnya, dalam hal seberapa efektif media 'Israel' dalam "menghancurkan Hamas". (hanoum/arrahmah.id)