Memuat...

Siapa Charlie Kirk? Pro-'Israel' dan Sekutu Trump yang Tewas Ditembak di Utah

Zarah Amala
Jumat, 12 September 2025 / 20 Rabiulawal 1447 11:15
Siapa Charlie Kirk? Pro-'Israel' dan Sekutu Trump yang Tewas Ditembak di Utah
Charlie Kirk dikenal karena retorika Islamofobia yang memecah belah dan advokasi pro-'Israel'nya [Getty]

UTAH (Arrahmah.id) - Pada Kamis (11/9/2025), Charlie Kirk, salah satu aktivis paling menonjol dari sayap kanan Amerika sekaligus sekutu dekat Presiden Donald Trump, tewas ditembak dalam sebuah acara politik di Utah.

Kirk dikenal luas sebagai pendiri Turning Point USA, organisasi pemuda yang menjadi motor penggerak gerakan Make America Great Again (MAGA). Melalui kampus-kampus dan media sosial, ia berhasil menyebarkan pesan pro-Trump khususnya ke generasi muda, terutama Gen Z.

Namanya meroket berkat gaya orasi penuh api dan penampilannya di televisi maupun radio. Namun, ia juga menuai kontroversi dengan serangan-serangannya terhadap kaum liberal, imigran, komunitas LGBT, dan umat Muslim.

Jejak Pro-'Israel'

Di luar Amerika, Kirk lebih banyak diingat karena retorika Islamofobia dan pembelaannya yang keras terhadap 'Israel'. Ia bahkan hadir di pembukaan Kedutaan Besar AS di Yerusalem pada 2018, menyebut pengalaman itu “membuka mata” dan berjanji organisasinya akan selalu berdiri bersama 'Israel'.

Ia berulang kali membela aksi militer 'Israel', termasuk serangan brutal terhadap Gaza. Setelah pecah perang pada 2023, Kirk mengatakan 'Israel' “berhak merespons dengan kekuatan yang menghancurkan.” Ia juga kerap menyangkal tuduhan bahwa 'Israel' sengaja menargetkan warga sipil atau menyebabkan kelaparan di Gaza, meski bukti-bukti lapangan menunjukkan sebaliknya.

Dukungan Kirk mendapat sambutan hangat dari para pejabat 'Israel'. PM Benjamin Netanyahu menyebutnya “sahabat berhati singa Israel” yang “berjuang melawan kebohongan dan membela peradaban Yahudi-Kristen.” Menteri Luar Negeri Gideon Sa’ar memuji Kirk sebagai “pejuang tanpa takut untuk kebenaran dan kebebasan.”

Retorika Islamofobia

Meski dielu-elukan sebagian kalangan, Kirk sering dikritik keras karena ucapannya yang dinilai rasis terhadap Muslim.

Saat Zohran Mamdani, politisi Muslim keturunan Uganda-India, menang dalam pemilihan pendahuluan di New York, Kirk menulis di X: “24 tahun lalu sekelompok Muslim membunuh 2.753 orang pada 9/11. Kini seorang Muslim sosialis siap memimpin New York City.”
Pernyataan itu langsung menuai kecaman luas karena dianggap Islamofobia.

Dalam berbagai kesempatan, ia juga menggaungkan teori konspirasi “Great Replacement”, yakni klaim bahwa imigrasi Muslim merupakan ancaman bagi “penduduk asli” Barat.

Polarisasi Politik

Kematian Kirk segera dijadikan bahan bakar politik. Trump memujinya sebagai sosok “legendaris” dan menuding “kiri radikal” sebagai dalang. Sementara itu, pembawa acara Fox News, Jesse Watters, berjanji gerakan MAGA akan “membalas” kematiannya.

Alih-alih hanya dilihat sebagai tragedi pribadi, pembunuhan ini justru kian mempertegas polarisasi politik di AS. Para pengkritik menilai, Kirk meninggalkan warisan berupa retorika penuh perpecahan, yang kini sedang dipakai sekutunya untuk memperkuat basis pendukung sekaligus menyerang lawan politik. (zarahamala/arrahmah.id)