GAZA (Arrahmah.id) - Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC) menyatakan keprihatinan mendalam atas nasib sebuah delegasi yang terdiri dari para menteri dan pejabat senior yang dikirim ke Riyadh untuk melakukan perundingan dengan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi. Kekhawatiran ini muncul hanya beberapa jam setelah Arab Saudi diduga melancarkan serangan udara ke kampung halaman pemimpin separatis selatan.
Pejabat senior STC, Amr al-Bidh, dalam konferensi pers daring mengatakan bahwa upaya berulang untuk menghubungi delegasi tersebut gagal, sehingga memunculkan kekhawatiran bahwa para anggotanya telah ditahan di Riyadh.
Al-Bidh menjelaskan bahwa delegasi tiba di ibu kota Arab Saudi dengan penerbangan komersial sekitar pukul 03.00 dini hari, sebelum kemudian dikawal oleh anggota tim keamanan Saudi ke dalam sebuah bus hitam. Ia menambahkan bahwa ponsel para anggota delegasi diduga disita tak lama setelah kedatangan mereka.
Menurut al-Bidh, panggilan berulang dari pejabat STC kepada rekan mereka di Riyadh tidak mendapat jawaban. Anggota keluarga delegasi juga tidak berhasil memperoleh informasi apa pun dari otoritas Saudi mengenai keberadaan mereka.
“Ini adalah delegasi tingkat tinggi yang mencakup menteri pertahanan, beberapa menteri lainnya, dan para pemimpin senior STC. Hingga saat ini, kami belum mendengar apa pun dari mereka,” kata al-Bidh kepada wartawan. “Kami telah berulang kali mencoba menghubungi mereka, tetapi tidak ada respons.”
“Kami mengirim pimpinan dan para menteri kami ke Riyadh untuk berdialog. Itulah yang kami lakukan, dan inilah yang kami terima,” tambahnya.
Harapan sempat muncul pada Rabu malam ketika salah satu anggota delegasi, Mohammad al-Ghaithi, menulis di X bahwa ia telah tiba di Riyadh dan sedang bersiap untuk perundingan “dalam suasana positif… di bawah naungan saudara-saudara kami di Kerajaan Arab Saudi”.
Namun, al-Bidh menyatakan bahwa STC tidak menganggap unggahan tersebut kredibel dan tetap berpegang pada posisi bahwa, selama tidak ada kontak langsung, delegasi tersebut dianggap ditahan.
“Kami tidak menganggap unggahan itu sebagai bentuk komunikasi yang sah,” ujarnya. “Kami tidak bisa menghubungi satu pun dari lebih dari lima puluh anggota delegasi. Ini sangat mengkhawatirkan.”
Salah satu tokoh senior STC yang tidak ikut ke Riyadh adalah pemimpin mereka, Aidarous al-Zubaidi, yang sempat menghilang pada Selasa pagi (6/1/2026) sebelum kemudian dilaporkan berada di Aden, ibu kota de facto separatis selatan.
Sebagian besar wilayah Aden kini berada di bawah kendali Brigade Raksasa Selatan (Southern Giants Brigades) yang didukung Uni Emirat Arab, setelah pasukan yang berafiliasi dengan STC mundur dari sejumlah posisi strategis di kota tersebut pada Rabu (7/1).
Al-Bidh membantah klaim bahwa al-Zubaidi tidak pergi ke Riyadh karena takut ditahan. Menurutnya, kehadiran al-Zubaidi dibutuhkan di Aden untuk mengelola urusan politik dan militer.
“Alasan utamanya adalah karena delegasi dengan mandat penuh sudah dikirim untuk melakukan dialog,” kata al-Bidh kepada The New Arab. “Alasan kedua adalah pesan yang ia terima, entah ia datang, atau akan ada pengeboman.”
“Itu jelas tidak menciptakan suasana yang kondusif untuk dialog,” tambahnya. “Pesannya jelas: datang atau dianggap musuh.”
The New Arab telah menghubungi Kedutaan Besar Arab Saudi di London untuk meminta tanggapan atas klaim STC, tetapi tidak mendapat jawaban. Perkembangan ini terjadi setelah serangan udara ke desa asal al-Zubaidi pada Rabu pagi (7/1), yang menurut STC menimbulkan korban sipil dan dipandang sebagai ancaman langsung dari Riyadh.
Sebelumnya pada hari yang sama, Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman, Rashad al-Alimi, menuduh al-Zubaidi melakukan “pengkhianatan tingkat tinggi” dan mengumumkan pencopotannya dari dewan tersebut. Dewan ini mencakup perwakilan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan STC, dan dibentuk sebagai front persatuan melawan gerakan Houthi.
Pejabat STC memperingatkan bahwa jika delegasi mereka benar-benar ditahan di Arab Saudi, al-Zubaidi bisa mundur ke perbukitan di sekitar Aden dan memimpin perlawanan bersenjata terhadap pasukan pemerintah Yaman.
Krisis ini menyusul pengambilalihan singkat wilayah-wilayah selatan yang disengketakan oleh pasukan STC bulan lalu, yang memicu serangan udara Saudi terhadap pengiriman senjata dari Uni Emirat Arab untuk separatis, serta operasi militer lanjutan oleh pasukan pemerintah Yaman untuk merebut kembali wilayah tersebut.
Eskalasi ini menyoroti meningkatnya ketegangan antara dua sekutu Teluk, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, dengan Abu Dhabi mendukung separatis selatan dan Riyadh mendukung pemerintah Yaman yang diakui internasional.
Setelah serangan Saudi terhadap Pelabuhan Mukalla pada Desember, Uni Emirat Arab mengumumkan penarikan pasukan “kontra-terorisme”-nya dari Yaman, yang sebelumnya dikerahkan bersama milisi yang berafiliasi dengan STC.
Harapan akan meredanya ketegangan sempat muncul pada Selasa (6/1) setelah diumumkan bahwa al-Zubaidi akan memimpin delegasi STC ke Riyadh untuk perundingan. Namun harapan tersebut memudar seiring kabar hilangnya delegasi, yang memicu kekhawatiran akan pecahnya kembali konfrontasi di Aden.
STC sebelumnya mengeluhkan kebuntuan dalam Dewan Kepemimpinan Presiden serta pengabaian terhadap wilayah selatan, sementara Arab Saudi dan pemerintah Yaman menyatakan kekhawatiran atas meningkatnya otonomi dan pergerakan militer pasukan separatis di selatan. (zarahamala/arrahmah.id)
