Memuat...

Caracas Ungkap 100 Tewas Saat Operasi AS Culik Presiden Venezuela

Hanoum
Jumat, 9 Januari 2026 / 20 Rajab 1447 04:01
Caracas Ungkap 100 Tewas Saat Operasi AS Culik Presiden Venezuela
Amerika Serikat menyita dua kapal tanker minyak, termasuk sebuah kapal berbendera Rusia. [Foto: AP]

CARACAS (Arrahmah.id) -- Pemerintah Venezuela menyatakan, sebanyak 100 orang tewas dalam operasi militer Amerikat Serikat (AS) untuk menangkap Presiden Nicolas Maduro. Sementara puluhan lainnya dilaporkan luka-luka.

Diketahui pasukan AS melakukan penyerangan ke ibu kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu (3/1/2026) waktu setempat. Serangan cepat itu juga diwarnai sejumlah pengeboman target militer maupun strategis di wilayah negara Amerika Latin itu.

Dalam konfirmasi pertamanya, Venezuela menyebut 24 personel militernya tewas. Adapun lima di antaranya adalah perwira tinggi berpangkat Laksamana.

Dilansir AFP (8/1), Menteri Dalam Negeri Venezuela Diosdado Cabello dalam keterangan terbarunya melalui saluran televisi pemerintah mengungkap 100 orang tewas dalam serangan AS itu. Namun, dia tidak merinci apakah jumlah tersebut merupakan gabungan korban sipil dan militer, ataukah hanya sipil.

"Sejauh ini -- dan maksud saya sejauh ini -- ada 100 orang tewas dan jumlah yang sama terluka. Serangan terhadap negara kita sangat mengerikan," kata Cabello dalam pernyataannya.

Cabello menuturkan saat saat ditangkap Delta Force, yang merupakan unit militer elite AS, Maduro dan istrinya Cilia Flores terluka, namun "sedang dalam masa pemulihan". Saat hadir dalam sidang perdana di New York (5/1) waktu AS, baik Maduro dan Flores terlihat bisa berjalan sendiri.

Keduanya sama-sama mengaku tidak bersalah atas dakwaan-dakwaan yang dijeratkan jaksa federal AS, yang mencakup tuduhan konspirasi narkoterorisme.

Laporan terpisah oleh para pejabat AS, seperti dikutip media terkemuka The Washington Post, menyebut bahwa 75-80 orang tewas dalam operasi militer untuk menangkap Maduro di Caracas. Angka itu mencakup tentara Venezuela, personel keamanan Kuba, dan warga sipil yang terjebak dalam pertempuran.

Selama 12 tahun kekuasaannya, Maduro -- sama seperti pendahulunya Hugo Chavez -- memilih untuk menggunakan tentara-tentara Kuba yang terlatih untuk melindungi dirinya.

Havana telah mengumumkan 32 personel angkatan bersenjata dan kepolisian Kuba, yang bertugas di ibu kota Caracas, tewas. (hanoum/arrahmah.id)

 

 

HeadlineAmerika SerikatvenezuelapenculikanpresidencaracasNicolás Maduro