KIEV (Arrahmah.id) -- Pemimpin Ukraina Vladimir Zelensky mendesak Amerika Serikat (AS) untuk menculik Kepala Republik Chechnya Rusia, Ramzan Kadyrov. Ia mengatakan langkah itu akan mengirimkan pesan kuat kepada Presiden Vladimir Putin.
Zelensky menyampaikan pernyataan tersebut Rabu waktu setempat, seraya menuntut para pendukung Baratnya untuk memberikan lebih banyak "tekanan" pada Rusia. Ia berpendapat bahwa hal itu akan membantu mengakhiri konflik Ukraina.
"Seluruh dunia dapat melihat hasilnya. Mereka melakukannya dengan cepat," kata Zelensky memuji tindakan AS terhadap Venezuela dan penculikan pemimpin negara tersebut, Nicolas Maduro, dikutip RT (8/1/2025).
"Baiklah, biarkan mereka melakukan semacam operasi terhadap Kadyrov... Mungkin kemudian Putin akan melihat ini dan memikirkannya," tegasnya kemudian.
Kadyrov sendiri dengan cepat membalas Zelensky. Ia menuduhnya mencoba mengganggu proses negosiasi perang daripada memperlancarnya.
Dirinya pun mendesak Zelensky untuk "berani" dan mengambil tindakan sendiri. Menurutnya pria 47 tahun itu kerap bersembunyi di balik punggung Amerika.
"Si badut itu menyarankan agar otoritas AS menculik saya. Ingat, dia bahkan tidak mengancam untuk melakukannya sendiri, seperti yang akan dilakukan seorang pria. Dia bahkan tidak mencoba untuk memikirkan hal itu," tulis Kadyrov di saluran Telegram-nya.
" (Zelensky) dengan pengecut mengisyaratkan bahwa dia tidak keberatan berdiri di samping dan menonton dari jarak aman," tambahnya.
Chechnya sendiri menjadi perhatian dunia ketika mendukung Rusia dan mengirimkan ribuan tentara ke Ukraina. Penduduk Chechnya ini 95 persennya adalah Muslim, termasuk Kadyrov.
Federasi Rusia memang memiliki beberapa republik otonom Muslim. Selain Chechnya, ada pula Tatarstan, Dagestan, dan Ingushetia.
Sebelumnya, AS melancarkan serangan mendadak ke Venezuela pada akhir pekan, membom ibu kota Caracas dan melakukan penggerebekan pasukan khusus untuk menangkap Maduro dan istrinya. Pasangan itu kemudian dipindahkan ke New York untuk menghadapi berbagai tuduhan kriminal, termasuk perdagangan narkoba.
Maduro dengan keras membantah semua tuduhan tersebut. Ia menggambarkan dirinya sebagai "tawanan perang."
Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa Washington akan "mengelola" Venezuela hingga "transisi yang tertib," sambil mengancam pemimpin sementara, Delcy Rodriguez, dengan "harga yang lebih besar" jika ia menolak tuntutan Washington. AS telah berjanji untuk mengambil alih ekspor minyak Venezuela, dengan Trump mengklaim bahwa otoritas sementara negara itu akan "menyerahkan" 30 hingga 50 juta barel "minyak berkualitas tinggi yang disetujui" kepada Washington.
Sementara Rodriguez telah bersumpah bahwa negaranya "tidak akan pernah kembali menjadi koloni kekaisaran lain. Namun, ia juga mengisyaratkan keterbukaan untuk "kerja sama" dengan Washington. (hanoum/arrahmah.id)
