ABU DHABI (Arrahmah.id) -- Sumber-sumber Suriah dan 'Israel' pada hari Selasa (8/7/2025) membantah laporan tentang pertemuan antara kepala Dewan Keamanan Nasional 'Israel' Tzachi Hanegbi dan Presiden Suriah Ahmad Asy Syaraa di ibu kota UEA, Abu Dhabi.
Sumber-sumber 'Israel' mengatakan bahwa normalisasi dengan Suriah masih menjadi tujuan yang jauh karena penolakan Asy Syaraa untuk merundingkan perjanjian damai sementara 'Israel' terus menduduki wilayah Suriah yang direbutnya pada bulan Desember 2024.
"Tidak ada kebenaran dalam laporan tentang sesi atau pertemuan antara Presiden Ahmad Asy-Syaraa dan pejabat Israel," kata seorang sumber di Kementerian Informasi, dikutip dari SANA (8/7).
Surat kabar 'Israel' Maariv juga melaporkan pada hari Selasa bahwa tidak ada pertemuan antara Hanegbi dan Syaraa di Abu Dhabi.
Pada hari Senin, Asy Syaraa melakukan perjalanan ke Uni Emirat Arab dalam kunjungan resmi, bagian dari tur Teluk keduanya sejak sebagian besar sanksi internasional terhadap Suriah dicabut. Ia diterima oleh Menteri Luar Negeri UEA Abdullah bin Zayed Al Nahyan.
“Normalisasi antara 'Israel' dan Suriah masih jauh dari kata berhasil. Hal ini disebabkan, antara lain, oleh fakta bahwa Presiden Suriah Ahmad Asy Syaraa menolak untuk membahas dimulainya proses normalisasi dengan 'Israel' — yang langkah pertamanya adalah kerja sama keamanan — selama tentara 'Israel' tetap hadir di wilayah Suriah yang diduduki setelah jatuhnya rezim Assad,” tulis situs berita 'Israel' Walla mengutip pernyataan seorang pejabat.
Namun, menurut Walla, pejabat lain menekankan bahwa setelah serangan 'Israel'-AS yang “berhasil” terhadap Iran — yang dilaporkan merusak program rudal nuklir dan balistiknya — sebuah peluang unik telah muncul untuk membentuk kembali Timur Tengah, termasuk perjanjian dengan Lebanon dan Suriah.
“Sampai saat ini, Iran mendominasi Lebanon dan Suriah melalui Hizbullah. Kami telah memutus poros itu — semuanya sudah berakhir. Meskipun mencapai kesepakatan dengan Lebanon dan Suriah tidak diharapkan dalam waktu dekat, itu mungkin saja.”
SANA melaporkan bahwa lawatan Asy Syaraa saat ini ke negara-negara Teluk bertujuan untuk meningkatkan kerja sama ekonomi dan menarik investasi untuk mendukung rekonstruksi Suriah dan rencana pembangunan ekonomi yang komprehensif.
Para pengamat meyakini kunjungan tersebut terkait dengan perkembangan terkini dalam pembicaraan "tidak langsung" antara pemerintah Suriah dan 'Israel', mengingat UEA, yang menormalisasi hubungan dengan 'Israel' pada tahun 2020, memainkan peran mediasi antara kedua belah pihak.
Harian 'Israel' Yedioth Ahronoth melaporkan pada tanggal 25 Mei bahwa UEA "mensponsori dan mengatur tiga pertemuan antara tokoh-tokoh Suriah yang dekat dengan Presiden Ahmad Asy Syaraa dan tokoh-tokoh 'Israel'."
Mei lalu, Asy Syaraa menyatakan dalam konferensi pers bersama dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron bahwa negaranya terlibat dalam pembicaraan tidak langsung dengan 'Israel' melalui mediator untuk meredakan ketegangan.
Menanggapi pertanyaan dari seorang reporter Alaraby TV, ia berkata: "Stabilitas di Suriah berarti stabilitas di kawasan, Eropa, dan seluruh dunia," seraya menambahkan bahwa 'Israel' harus "berhenti mencampuri urusan Suriah". (hanoum/arrahmah.id)
