DAMASKUS (Arrahmah.id) - Kementerian Pendidikan Republik Arab Suriah meluncurkan serangkaian reformasi luas pada 2025 yang bertujuan untuk memulihkan sistem pendidikan, merehabilitasi sekolah-sekolah yang rusak, dan memodernisasi ujian sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk menstabilkan pembelajaran di seluruh negeri.
Kementerian memprioritaskan pembangunan kembali infrastruktur pendidikan, menyelesaikan renovasi di 1.003 sekolah, sementara 1.015 sekolah lainnya masih dalam perbaikan di beberapa provinsi. Pekerjaan tersebut telah memungkinkan ratusan ribu siswa untuk kembali ke ruang kelas.
Untuk mempromosikan akses yang lebih luas ke pendidikan, kementerian mencabut pembatasan yang sebelumnya diberlakukan pada siswa yang dilarang mendaftar di bawah rezim Bashar Assad sebelumnya, lansir SANA (4/1/2026).
Siswa yang terkena dampak dikembalikan dan ditawari ujian susulan. Prosedur pendaftaran disederhanakan, termasuk untuk siswa yang kembali dari luar negeri, untuk mempermudah pendaftaran.
Kementerian juga meluncurkan inisiatif untuk mendukung pendidikan inklusif bagi anak-anak penyandang disabilitas.
Reformasi ujian sekolah menengah pertama dan menengah atas diperkenalkan untuk meningkatkan transparansi dan administrasi.
Langkah-langkah yang diambil meliputi penerbitan materi latihan, pembukaan pusat ujian tambahan, dan penguatan kontrol anti-kecurangan.
Lokakarya nasional diadakan untuk meningkatkan kapasitas administrasi, sementara sesi informasi memperkenalkan format ujian kepada siswa.
Menurut kementerian, lebih dari 15.000 guru yang sebelumnya diberhentikan oleh rezim Assad dipekerjakan kembali.
Upaya juga diarahkan untuk mengembangkan pusat pelatihan kejuruan dan mendorong inovasi siswa, dengan tujuan menyelaraskan pendidikan lebih erat dengan kebutuhan pasar tenaga kerja.
Sebagai bagian dari upaya transformasi digitalnya, kementerian memperkenalkan buku teks interaktif dan perpustakaan digital yang berisi jutaan sumber daya pendidikan.
Sesi pelatihan dan lokakarya diadakan untuk memperkuat keterampilan mengajar dan mendukung pembelajaran berbasis penelitian.
Suriah memperluas partisipasinya dalam forum pendidikan internasional, termasuk Konferensi Umum UNESCO di Samarkand, KTT WISE di Doha, dan Forum Pendidikan Global di London.
Kerja sama dengan organisasi seperti UNESCO, UNICEF, dan GIZ diperkuat, dan Suriah bergabung dengan Kemitraan Global untuk Pendidikan.
Reformasi ini dilakukan setelah bertahun-tahun mengalami kekacauan akibat perang dan tindakan rezim yang digulingkan. (haninmazaya/arrahmah.id)
