DAMASKUS (Arrahmah.id) -- Syeikh Abdullah al Muhaysni, tokoh ulama kelompok Hai'ah Tahrir Sham (HTS) menanggapi pertanyaan yang banyak datang kepadanya terkait bergabungya Suriah dalam koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat (AS) untuk melawan kelompok Islamic State (ISIS).
"Inti dari perjanjian ini adalah bahwa perjanjian ini merupakan kesepahaman politik, bukan aliansi militer, dan bukan partisipasi dalam operasi pertempuran seperti CJTOIR," ungkap al Muhaysni dalam akun X-nya (10/11/2025).
Al Muhaysni menyebutkan bahwa perjanjian Suriah dengan AS ini bertujuan untuk mengonsolidasikan persatuan negara Suriah, mencabut legitimasi milisi SDF, dan mengatur setiap tindakan asing di wilayah Suriah melalui koordinasi dengan negara yang sah.
"Pada kenyataannya, ini merupakan langkah menuju pemulihan kedaulatan dan membuka jalan bagi penarikan pasukan asing yang terorganisir," tambahnya.
Menurutnya, bergabungnya negara Suriah dalam koalisi internasional melawan ISIS adalah masalah serius yang tidak dapat diselesaikan melalui emosi atau impulsif, melainkan membutuhkan pertimbangan yang cermat dan pendekatan ilmiah agar mampu menentukan tindakan yang tepat.
Namun ancaman paling serius saat ini, menurut Muhaysni, adalah proyek separatis di mana SDF mengandalkan perlindungan internasional dan memperoleh legitimasinya dengan dalih memerangi ISIS.
"Koordinasi dengan AS menjadi keharusan, bukan pilihan. Karena AS sudah ada di Suriah sejak tahun 2014 tanpa otoritas yang melarangnya. Oleh karena itu perlu diatur hubungan secara hukum dan politik yang akan secara signifikan mengurangi kerugian dan mencegah pelanggaran sewenang-wenang,' kata Muhaysni.
Muhaysni menguatkan bahwa dalam hukum Islam tidak semata mempertimbangkan penampilan saja, melainkan juga konsekuensi dan akibatnya.
"Banyak hal yang tampak terlarang di permukaan justru mengarah pada kerugian yang lebih besar jika dibiarkan," kata Muhaysni, "Jika memasuki perjanjian ini diperbolehkan, dan pemimpinnya menjauhi keburukan karena kesalehan, dan apabila menolak perjanjian ini mengakibatkan runtuhnya negara, menguatnya milisi, atau disintegrasi barisan, maka penolakannya akan dianggap kelalaian, bukan kesalehan"
Menutup komentarnya, Muhaysni mengajak seluruh warga Suriah untuk bersatu di sekitar kepemimpinan yang ada sekarang dan mempercayakan urusan negara pada mereka. (hanoum/arrahmah.id)
