Memuat...

Trans7 Diboikot Warganet Usai Tayangan XPOSE Dinilai Lecehkan Kiai dan Dunia Pesantren

Ameera
Selasa, 14 Oktober 2025 / 23 Rabiulakhir 1447 18:40
Trans7 Diboikot Warganet Usai Tayangan XPOSE Dinilai Lecehkan Kiai dan Dunia Pesantren
Trans7 Diboikot Warganet Usai Tayangan XPOSE Dinilai Lecehkan Kiai dan Dunia Pesantren

JAKARTA (Arrahmah.id) - Gelombang protes muncul di media sosial setelah program XPOSE di stasiun televisi Trans7 menayangkan episode dengan judul Santrinya minum susu aja kudu jongkok, emang gini kehidupan di pondok?”.

Tayangan tersebut dianggap menyinggung dan melecehkan dunia pesantren, khususnya Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, KH Anwar Manshur.

Tagar #BoikotTrans7 pun ramai digaungkan oleh warganet, terutama dari kalangan santri dan alumni pesantren di seluruh Indonesia. Mereka menyayangkan bagaimana tayangan tersebut bisa lolos tayang tanpa pertimbangan etika dan riset yang mendalam.

Dalam sejumlah unggahan di media sosial, para santri menilai bahwa tayangan itu menggambarkan dunia pesantren dengan cara yang sempit dan bias. Mereka menilai kedisiplinan dianggap sebagai penindasan, penghormatan dinilai feodalisme, dan pengabdian diasumsikan sebagai bentuk perbudakan.

Salah satu akun, @cahpondok, menulis:

"Jangan sampai kejadian seperti ini terulang. Banyak Kiai yang hidup sederhana dari hasil usaha sendiri. Kalau pun ada yang hidup cukup, itu sering karena pemberian atau bantuan dari santri yang sukses. Media sebesar @officialtrans7 seharusnya bisa lebih berimbang. Sekali lagi kami serukan #BOIKOTTRANS7."

Kecaman dari Organisasi dan Tokoh Pesantren

Tidak hanya warganet, Ikatan Keluarga Alumni Asshidiqiyah (IKLAS) juga mengeluarkan pernyataan resmi mengecam tayangan tersebut. Dalam keterangan yang disebarluaskan pada Selasa (14/10/2025), IKLAS menyampaikan tujuh poin sikap keras terhadap Trans7.

Dalam pernyataan itu, IKLAS menegaskan:

  1. Mengecam pengisi suara dalam tayangan yang dinilai mencederai etika dan kurang riset.
  2. Mengecam penanggung jawab produksi karena tidak menyertakan data pembanding yang komprehensif.
  3. Mengecam Trans7 karena meloloskan konten tersebut untuk ditayangkan kepada publik.
  4. Mendesak Trans7 serta tim produksi untuk segera meminta maaf kepada para masyayikh, kiai, dan seluruh pesantren di Indonesia.
  5. Apabila tidak ada permintaan maaf dalam waktu cepat, IKLAS akan melaporkan Trans7 kepada Dewan Pers dan pemangku kepentingan untuk menghentikan program tersebut, bahkan menuntut penutupan stasiun televisi tersebut.
  6. Jika langkah itu diabaikan, IKLAS mengancam akan menggelar aksi unjuk rasa bersama jaringan alumni pesantren di seluruh Indonesia.
  7. IKLAS berharap peristiwa ini menjadi pelajaran bagi seluruh konten kreator dan tim produksi agar lebih bijak dan menjunjung adab dalam berkarya.

IKLAS juga memberikan batas waktu 1x24 jam bagi Trans7 untuk menunjukkan itikad baik dan menyampaikan permintaan maaf secara resmi.

Kecaman Tokoh Islam Nasional

Kecaman juga datang dari Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis. Melalui akun X (Twitter) pribadinya, ia menulis:

"Jika video dan narasinya benar dari Trans7, sungguh penghinaan terhadap pesantren dan benar-benar tak mengerti kearifan lokal.”

Kiai Cholil menegaskan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan yang berperan besar dalam pembentukan karakter bangsa, sehingga tidak semestinya dijadikan bahan tayangan yang menimbulkan stigma negatif

Desakan Permintaan Maaf Publik

Hingga kini, para santri, alumni pesantren, dan organisasi keagamaan masih menunggu klarifikasi dan permintaan maaf resmi dari pihak Trans7.

Mereka berharap stasiun televisi tersebut bertanggung jawab atas kontennya dan menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran penting untuk lebih menghormati nilai-nilai pesantren dan tokoh agama.

(ameera/arrahmah.id)