WASHINGTON (Arrahmah.id) - Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengancam Afghanistan dengan konsekuensi yang tidak disebutkan secara rinci kecuali negara itu mengembalikan kendali pangkalan udara Bagram kepada Washington.
Ancaman samar pada Sabtu (20/9/2025), muncul sehari setelah Imarah Islam Afghanistan menolak seruan Trump untuk mengembalikan pangkalan udara yang luas tersebut, yang terletak sekitar 64 km (40 mil) dari ibu kota Afghanistan, Kabul.
"Jika Afghanistan tidak mengembalikan Pangkalan Udara Bagram kepada mereka yang membangunnya, Amerika Serikat, HAL-HAL BURUK AKAN TERJADI!!!" tulis Trump di platform Truth Social miliknya, seperti dilansir Al Jazeera.
Bagram, sebuah kompleks yang luas, merupakan pangkalan utama pasukan AS di Afghanistan selama dua dekade perang setelah serangan 11 September 2001 di New York dan Washington oleh al-Qaeda.
Ribuan orang dipenjara di lokasi tersebut selama bertahun-tahun tanpa dakwaan atau pengadilan oleh pasukan AS selama apa yang disebut "perang melawan teror", dan banyak dari mereka dianiaya atau disiksa.
Imarah Islam merebut kembali fasilitas itu pada 2021 setelah penarikan pasukan AS dan runtuhnya pemerintah Afghanistan.
Trump sering mengeluhkan hilangnya akses ke Bagram, mengingat kedekatannya dengan Cina. Namun, komentarnya pada Kamis, saat berkunjung ke Inggris, adalah pertama kalinya ia mengumumkan bahwa ia sedang menangani masalah ini.
"Kami sedang berusaha mendapatkannya kembali, omong-omong, itu bisa menjadi berita besar. Kami berusaha mendapatkannya kembali karena mereka membutuhkan sesuatu dari kami," klaim Trump dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.
Namun, para pejabat Afghanistan telah menyatakan penolakan terhadap kebangkitan kehadiran AS.
"Afghanistan dan Amerika Serikat perlu bekerja sama, tanpa Amerika Serikat mempertahankan kehadiran militer di wilayah mana pun di Afghanistan," kata Zakir Jalal, seorang pejabat Kementerian Luar Negeri di X, pada Jumat.
"Kabul siap menjalin hubungan politik dan ekonomi dengan Washington berdasarkan 'saling menghormati dan kepentingan bersama'," tambahnya.
Trump telah berulang kali mengkritik hilangnya pangkalan tersebut sejak kembali berkuasa, mengaitkannya dengan serangannya terhadap penanganan pendahulunya, Joe Biden, terkait penarikan pasukan AS dari Afghanistan.
Trump juga mengeluhkan meningkatnya pengaruh Cina di Afghanistan.
Ketika ditanya pada Sabtu apakah ia akan mengirimkan pasukan untuk merebut kembali pangkalan tersebut, Trump menolak memberikan jawaban langsung, dengan mengatakan: "Kami tidak akan membicarakan hal itu."
"Kami sedang berbicara dengan Afghanistan, dan kami menginginkannya kembali dan kami menginginkannya kembali segera. Dan jika mereka tidak melakukannya –jika mereka tidak melakukannya, kalian akan tahu apa yang akan saya lakukan," ujarnya kepada para wartawan di Gedung Putih.
