WASHINGTON (Arrahmah.id) - Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan perdagangan agresif dengan memberlakukan tarif sebesar 25 persen bagi negara mana pun yang melakukan aktivitas bisnis dengan Iran. Kebijakan ini menyusul eskalasi kerusuhan di Iran yang dilaporkan telah menelan hingga 2.000 korban jiwa.
"Berlaku segera, negara mana pun yang berbisnis dengan Republik Islam Iran akan membayar tarif sebesar 25 persen untuk seluruh aktivitas bisnis yang dilakukan dengan Amerika Serikat," tulis Trump melalui akun Truth Social miliknya, Senin (12/1/2026).
Langkah ini akan berdampak langsung pada mitra dagang utama Iran seperti Cina, Rusia, India, dan Turki. Cina, yang menyumbang 30 persen dari total perdagangan luar negeri Iran, bereaksi keras. Juru bicara Kedutaan Besar China di AS, Liu Pengyu, menyatakan bahwa perang tarif tidak akan menghasilkan pemenang dan mengecam tindakan paksaan tersebut.
Pengumuman tarif ini muncul ketika Trump mempertimbangkan kemungkinan tindakan militer terhadap Iran terkait protes tersebut. Kelompok hak asasi manusia melaporkan peningkatan jumlah korban jiwa.
"Serangan udara akan menjadi salah satu dari sekian banyak opsi yang ada," kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt pada Senin pagi (12/1).
Namun, ia mengatakan bahwa Iran juga memiliki saluran diplomatik yang terbuka untuk utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dan menambahkan bahwa Iran mengambil "nada yang jauh berbeda" secara pribadi dibandingkan dengan pernyataan publiknya.
Menyusul ketegangan yang kian memanas, Kedutaan Besar AS virtual untuk Iran mengeluarkan peringatan keamanan pada Selasa (13/1), mendesak seluruh warga Amerika untuk segera meninggalkan Iran. Mengingat AS tidak memiliki kehadiran diplomatik fisik, warga diminta keluar melalui jalur darat menuju Armenia atau Turki secara mandiri.
"Tinggalkan Iran sekarang. Jika tidak bisa, cari lokasi aman di kediaman Anda atau bangunan aman lainnya," bunyi pernyataan resmi tersebut.
Laporan Korban Jiwa Simpang Siur
Seorang pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa sekitar 2.000 orang, termasuk warga sipil dan personel keamanan, telah tewas dalam tindakan keras terhadap pengunjuk rasa. Angka ini jauh lebih tinggi dari data kelompok hak asasi manusia yang mencatat sekitar 640 kematian.
Protes yang dipicu oleh anjloknya nilai tukar rial dan inflasi yang mencapai 42 persen ini telah berlangsung sejak akhir Desember. Organisasi HRANA melaporkan lebih dari 10.700 orang telah ditangkap, sementara akses internet di seluruh Iran telah diputus selama lebih dari 100 jam.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuduh AS dan 'Israel' berada di balik "perusuh bersenjata" untuk menciptakan kekacauan. Teheran pun mengancam akan menyerang pangkalan militer AS dan wilayah Israel jika kedaulatan mereka diserang.
Menanggapi ancaman balasan tersebut, Trump yang berbicara di atas pesawat Air Force One menegaskan bahwa militer AS tengah mempertimbangkan opsi yang sangat kuat. "Jika mereka melakukan itu, kami akan membalas mereka pada tingkat yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya," tegas Trump.
Ketegangan ini terjadi hanya beberapa bulan setelah 'Israel' dan Iran terlibat dalam perang singkat selama 12 hari pada Juni lalu, yang juga melibatkan intervensi militer Amerika Serikat. (zarahamala/arrahmah.id)
