Memuat...

Trump dan Netanyahu Rayakan Akhir Perang Gaza, Klaim Sebagai Awal “Perdamaian Baru” di Timur Tengah

Samir Musa
Senin, 13 Oktober 2025 / 22 Rabiulakhir 1447 22:28
Trump dan Netanyahu Rayakan Akhir Perang Gaza, Klaim Sebagai Awal “Perdamaian Baru” di Timur Tengah
Trump berjabat tangan dengan Perdana Menteri “Israel” sebelum menyampaikan pidatonya di Knesset (AFP).

KNESSET (Arrahmah.id) — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa dunia tengah menyaksikan “fajar bersejarah bagi Timur Tengah yang baru”, dan menyeru semua pihak untuk mewujudkan “perdamaian dan kemakmuran bagi seluruh kawasan”.

Pernyataan itu disampaikan Trump dalam pidatonya di Knesset (“parlemen”) “Israel” pada Senin (13/10), dalam kunjungan kenegaraannya sebelum menghadiri KTT di Sharm el-Sheikh, Mesir, yang berfokus pada upaya mengakhiri perang di Gaza.

Trump mengatakan, “Generasi mendatang akan mengingat momen ini sebagai titik awal perubahan besar menuju masa depan yang lebih baik. Akhirnya, mimpi buruk panjang itu berakhir — bukan hanya bagi orang Israel, tapi juga bagi rakyat Palestina.”

Ia menggambarkan berakhirnya perang di Gaza sebagai “kemenangan luar biasa bagi ‘Israel’ dan dunia”, seraya menegaskan bahwa “‘Israel’ telah meraih semua yang mungkin diraih dengan kekuatan senjata.”

Trump mengklaim dirinya sebagai sosok yang “tidak menyukai perang” dan lebih memilih jalan damai, menyebut telah “mengakhiri delapan perang dalam delapan bulan terakhir”, dan bahwa perang di Gaza akan ia masukkan dalam daftar keberhasilannya dengan “kembalinya para tawanan.”

Dalam pidatonya, Trump menyerukan agar “kemenangan melawan para teroris di medan perang diterjemahkan menjadi hadiah besar berupa perdamaian dan kemakmuran bagi seluruh kawasan Timur Tengah.”

Ia juga meminta penduduk Gaza untuk “memusatkan perhatian sepenuhnya pada pemulihan stabilitas, keamanan, martabat, dan pembangunan ekonomi,” serta menegaskan niatnya untuk berperan dalam upaya rekonstruksi wilayah tersebut.

Menurutnya, “kekuatan-kekuatan kekacauan di kawasan telah dikalahkan sepenuhnya, dari Gaza hingga Iran,” sambil menuduh bahwa “kebencian pahit hanya menghasilkan penderitaan dan kegagalan.” Meski demikian, ia menyebut “tangan persahabatan dan kerja sama tetap terbuka” terhadap Iran, meski “rezimnya telah menyebabkan begitu banyak kematian di Timur Tengah.”

Pidato Trump sempat terhenti sejenak setelah dua anggota Knesset, Ayman Odeh dan Ofer Cassif, memotong ucapannya, sebelum keduanya dikeluarkan oleh aparat keamanan.

Trump kemudian menegaskan bahwa Amerika Serikat akan “menerapkan perdamaian melalui kekuatan,” sambil menyebut negaranya memiliki “senjata yang tak pernah dibayangkan siapa pun — dan saya berharap tidak perlu menggunakannya.”

Ia berpesan kepada warga “Israel” bahwa Amerika Serikat “tidak akan lupa dan tidak akan membiarkan peristiwa 7 Oktober 2023 terulang kembali.”

Dalam kesempatan itu, Trump juga memuji Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menyebutnya sebagai sosok yang “tidak mudah dihadapi, tapi justru itulah yang membuatnya hebat.” Ia menambahkan, “Netanyahu sering menelepon saya dan meminta berbagai jenis senjata — dan kalian telah menggunakannya dengan baik.”

Sebelum Trump berbicara, Netanyahu lebih dahulu menyampaikan pidato yang penuh pujian kepada presiden Amerika tersebut. Ia berterima kasih atas pengakuan Trump terhadap “hak-hak historis ‘Israel’ di Tepi Barat yang diduduki,” dan menyebutnya sebagai “sahabat terbesar yang pernah dimiliki ‘Israel’.”

Netanyahu menegaskan bahwa tidak ada presiden Amerika yang “telah melakukan sebanyak yang dilakukan Trump untuk ‘Israel’.” Ia mengklaim bahwa “rencana perdamaian Trump diterima dunia, mengakhiri perang, dan mencapai seluruh tujuan ‘Israel’.”

Perdana Menteri “Israel” itu juga menegaskan komitmennya untuk “mewujudkan perdamaian sesuai visi Trump”, serta menyatakan bahwa ia “mengulurkan tangan perdamaian kepada siapa pun yang menginginkan perdamaian dengan kami.”

Dalam pidatonya, Netanyahu menyebut bahwa “Israel” telah meraih “kemenangan luar biasa,” menegaskan “seluruh pemimpin serangan 7 Oktober telah tewas,” dan mengklaim bahwa “program nuklir Iran berhasil dihancurkan.”

Ia menyimpulkan bahwa “tahun-tahun mendatang akan menjadi masa perdamaian di dalam dan di luar ‘Israel’,” serta menambahkan, “perdamaian akan datang lebih cepat dari yang diperkirakan, di bawah kepemimpinan Trump.”

(Samirmusa/arrahmah.id)