GAZA (Arrahmah.id) - Pasukan pendudukan 'Israel' kembali melakukan penangkapan massal terhadap puluhan warga Palestina di Kota Tulkarem, Tepi Barat, sembari memberlakukan blokade ketat.
Pada Kamis (11/9/2025), sumber lokal mengonfirmasi bahwa tentara 'Israel'menyerbu sejumlah toko dan kafe di pusat kota, menciduk semua orang yang ada di dalamnya, termasuk mereka yang berada di kendaraan. Para tahanan paksa digiring dalam barisan panjang menuju jalan yang mengarah ke pos militer Khadouri di sebelah barat kota.
Pasukan 'Israel' juga menambah jumlah kendaraan militernya, termasuk satu buldoser besar, lalu merazia rumah dan tempat usaha warga, memaksa pemiliknya menutup paksa. Selain itu, sejumlah kamera pengawas disita, sementara pergerakan penduduk di kawasan tersebut dibatasi.
Sebelumnya pada hari yang sama, pasukan pendudukan menutup rapat Tulkarem dengan menurunkan gerbang besi di pintu masuk selatan dan timur kota, sehingga kendaraan tidak bisa keluar masuk. Menurut Bulan Sabit Merah Palestina, tentara juga melepaskan tembakan ke arah warga dan mobil di kawasan barat serta melarang ambulans masuk untuk menolong yang terluka.
Serangan ini terjadi saat Kota Tulkarem dan dua kamp pengungsinya, Tulkarem dan Nur Syams, telah memasuki hari ke-228 berturut-turut di bawah agresi 'Israel', ditandai dengan penggerebekan harian, penangkapan, serta pembatasan keras terhadap warga sipil dan harta mereka.
Tentara 'Israel' berdalih bahwa dua tentaranya mengalami luka ringan akibat ledakan di Tulkarem pada Kamis (11/9), dan hal itu dijadikan alasan untuk mengepung kota tersebut.
“Semua ini terlihat seperti hukuman kolektif, lebih ke pertunjukan kekuatan semata,” kata seorang warga Tulkarem.
Menurut Komisi Urusan Tahanan dan Eks-Tahanan bersama Masyarakat Tahanan Palestina (PPS), lebih dari 19.000 warga Palestina di Tepi Barat telah ditangkap sejak dimulainya genosida di Gaza pada Oktober 2023.
Kedua lembaga itu menambahkan bahwa penangkapan massal terbaru di Tulkarem hanya dalam hitungan jam merupakan bagian dari kampanye penahanan luas yang sejak awal perang juga dilakukan di Jalur Gaza.
“Momen-momen ini mengingatkan pada banyak peristiwa sebelumnya, ketika warga sipil dipaksa menghadapi interogasi lapangan dan penangkapan massal yang kerap disertai dengan penyiksaan sistematis dan penghinaan,” tegas mereka. (zarahamala/arrahmah.id)
