Memuat...

Washington Tekan “Israel”: Masuk Fase Kedua atau Bayar Rekonstruksi Gaza

Samir Musa
Jumat, 12 Desember 2025 / 22 Jumadilakhir 1447 09:33
Washington Tekan “Israel”: Masuk Fase Kedua atau Bayar Rekonstruksi Gaza
Leavitt menegaskan bahwa pemerintah Amerika berupaya memastikan tercapainya “perdamaian yang permanen” di Jalur Gaza (Euronews).

WASHINGTON (Arrahmah.id) – Gedung Putih kembali menekan “Israel” agar segera beralih ke fase kedua dari kesepakatan gencatan senjata, sembari menegaskan bahwa Tel Aviv harus menanggung biaya besar rekonstruksi Gaza yang hancur akibat agresi militernya.

Jurubicara Gedung Putih, Caroli upaya intensif di belakang layar” untuk memastikan transisi menuju fase selanjutnya dari kesepakatan.Jurubicara Gedung Putih, Caroline Leavitt, menyatakan bahwa upaya untuk menemukan dan memulangkan jenazah tawanan terakhir “Israel” di Gaza masih terus berlangsung. Ia menegaskan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump sedang melakukan “upaya intensif di belakang layar” untuk memastikan transisi menuju fase selanjutnya dari kesepakatan.

Leavitt menambahkan bahwa pengumuman Dewan Perdamaian Gaza—badan yang akan mengawasi tata kelola dan pemulihan wilayah—akan dilakukan “pada waktu yang tepat”. Ia menegaskan bahwa Washington berupaya memastikan tercapainya “perdamaian permanen” di Jalur Gaza.

Trump sebelumnya menyatakan bahwa pada awal 2026 ia akan mengumumkan pembentukan Dewan Perdamaian Gaza, sebuah lembaga yang akan mengawasi pemerintahan serta proses rekonstruksi di wilayah itu.

Sementara itu, laporan media Amerika menyebut Trump berencana menunjuk seorang jenderal AS untuk memimpin pasukan internasional ISF (International Stabilization Force) yang direncanakan dikerahkan di Gaza. Diplomat AS Mike Waltz disebut telah menyampaikan kepada Perdana Menteri “Israel” Benjamin Netanyahu bahwa Washington akan memimpin pasukan tersebut.

Fase Kedua Terganjal Isu Tawanan

Meski ada desakan Amerika, “Israel” menegaskan bahwa mereka tidak akan memasuki fase kedua sebelum menemukan jenazah tawanan Ran Gweili. Tel Aviv disebut telah menyerahkan citra udara dan informasi intelijen untuk membantu pencarian.

Seorang pejabat “Israel” menegaskan, “Kami tidak akan berkompromi hingga Ran dikembalikan dan dimakamkan di Israel.”

Washington berharap ISF dapat mulai dikerahkan pada awal 2026, dimulai dari wilayah Rafah. Menurut sumber-sumber AS, Indonesia dan Azerbaijan telah menyatakan kesediaan mengirim pasukan, sementara negara lain memilih berkontribusi dalam bentuk pelatihan, pendanaan, atau penyediaan peralatan.

Namun Netanyahu—menurut laporan media “Israel”—meragukan kemampuan pasukan internasional untuk menyingkirkan kemampuan militer Hamas tanpa keterlibatan tentara “Israel”. Ia menyampaikan bahwa tentara “Israel” tetap akan “harus memainkan peran tertentu”.

Para pejabat di Tel Aviv juga menyatakan kekhawatiran bahwa Washington lebih fokus pada rekonstruksi Gaza ketimbang upaya melucuti kekuatan Hamas.

Tekanan AS Terkait Biaya Pembersihan Reruntuhan

Di sisi lain, media “Israel” Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa AS menekan “Israel” untuk bertanggung jawab penuh atas biaya pembersihan puing-puing masif akibat perang di Gaza—langkah penting sebelum rekonstruksi dimulai.

Menurut laporan itu, “Israel” telah menyetujui secara prinsip untuk menanggung biayanya, yang diperkirakan mencapai ratusan juta dolar, dan akan menggunakan perusahaan-perusahaan spesialis untuk pekerjaan tersebut.

Hingga kini, kantor Netanyahu belum memberikan komentar resmi.

Laporan Wall Street Journal menyebut bahwa Gaza kini tertutup sekitar 68 juta ton reruntuhan, sementara Program Pembangunan PBB (UNDP)—yang mengoordinasikan perencanaan pemindahan puing—menyatakan volume tersebut setara dengan 186 bangunan seukuran Empire State Building.

Pembersihan reruntuhan ini menjadi syarat pokok untuk dimulainya rekonstruksi dalam fase kedua gencatan senjata.

(Samirmusa/arrahmah.id)