GAZA (Arrahmah.id) - Kate Forbes, juru bicara Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, menyampaikan kepada Al Jazeera bahwa sebanyak 50 staf organisasi mereka telah tewas di Gaza sejak awal perang yang dilancarkan 'Israel'.
“Tak ada tempat aman di Gaza,” ujar Forbes. Ia menambahkan, “Bahkan tenaga medis pun kini ikut kelaparan.”
Forbes mendesak agar bantuan pangan, obat-obatan, dan perlengkapan kemanusiaan segera diizinkan masuk ke Gaza. Ia juga menekankan pentingnya perlindungan terhadap para pekerja medis dan kemanusiaan yang terus bekerja di tengah kondisi yang mustahil di bawah gempuran bom 'Israel'.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa 94% fasilitas medis di Gaza telah rusak, dan setengah dari seluruh rumah sakit sudah tak lagi beroperasi.
WHO menyerukan agar makanan dan obat-obatan segera dikirimkan, markas WHO di Gaza dijaga keamanannya, dan seorang staf mereka yang ditangkap pada Senin (21/7/2025) segera dibebaskan.
Meski situasi semakin berbahaya, staf PBB masih terus berusaha menyalurkan bantuan dari wilayah Deir al-Balah. WHO memperingatkan bahwa tenaga kesehatan dan rumah sakit perlu dilindungi dari serangan berulang kali.
Rumah Sakit Akan Tutup dalam Hitungan Jam
Dr. Khalil Al-Daqran, juru bicara Rumah Sakit Al-Aqsa Martyrs di Deir al-Balah, mengingatkan bahwa rumah sakitnya bisa sepenuhnya berhenti beroperasi dalam hitungan jam akibat kekurangan bahan bakar.
Ia menggambarkan krisis parah yang melanda: minimnya bahan bakar, peralatan medis, dan tenaga kesehatan. Pemeriksaan pasien pun dilakukan dengan sangat terbatas karena lonjakan jumlah korban dan merebaknya wabah penyakit, terutama pada anak-anak. Air tercemar, makanan langka, dan tempat penampungan terlalu padat, memperparah kondisi.
“Separuh wilayah Gaza Tengah saat ini benar-benar terkepung,” kata Al-Daqran. Ia menekankan bahwa tidak ada tempat aman bagi warga sipil maupun tim medis. Bahkan anak-anak yang sedang menunggu bantuan pun ikut menjadi target serangan.
Al-Daqran mengecam diamnya dunia internasional dalam menghadapi “bencana kemanusiaan dan kesehatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.” Ia menegaskan bahwa rumah-rumah sakit Gaza tak lagi mampu memberikan perawatan dasar bagi lebih dari 1,5 juta orang yang terluka dan mengungsi.
Sejak 7 Oktober 2023, 'Israel', dengan dukungan Amerika Serikat, telah melancarkan perang genosida di Gaza yang telah membunuh dan melukai lebih dari 200.000 warga Palestina, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak. Ribuan masih hilang, ratusan ribu lainnya mengungsi, dan kelaparan telah merenggut nyawa tak terhitung. (zarahamala/arrahmah.id)
