Memuat...

Al Jazeera Desak Aksi Global Lindungi Jurnalis Gaza dari Genosida dan Senjata Kelaparan 'Israel'

Zarah Amala
Kamis, 24 Juli 2025 / 29 Muharam 1447 10:01
Al Jazeera Desak Aksi Global Lindungi Jurnalis Gaza dari Genosida dan Senjata Kelaparan 'Israel'
(QNN)

GAZA (Arrahmah.id) – Jaringan Media Al Jazeera menyerukan kepada komunitas jurnalis, organisasi pembela kebebasan pers, serta lembaga hukum internasional untuk segera mengambil tindakan tegas menghentikan kelaparan paksa dan kejahatan yang dilakukan 'Israel' terhadap jurnalis di Gaza.

“Selama lebih dari 21 bulan, pengeboman 'Israel' yang tiada henti dan pengepungan yang melumpuhkan telah menyeret dua juta penduduk Gaza ke ambang kematian,” tulis Al Jazeera dalam pernyataannya, Rabu (23/7/2025).

Jaringan tersebut menegaskan, para jurnalis yang selama ini berdiri di garis depan, melaporkan genosida secara langsung, kini justru berjuang untuk bertahan hidup. “Mereka yang selama ini memberitakan penderitaan, kini turut merasakannya,” tambahnya.

Tanggal 19 Juli menjadi titik balik. Para jurnalis Al Jazeera mulai mengunggah pesan-pesan memilukan di media sosial. Salah satunya datang dari Anas al-Sharif: “Aku belum pernah berhenti meliput sedetik pun dalam 21 bulan terakhir. Tapi hari ini, aku katakan dengan pilu yang tak terlukiskan… Aku tenggelam dalam kelaparan, tubuhku gemetar karena kelelahan, berjuang menahan pingsan yang terus mengintai… Gaza sedang sekarat. Dan kami mati bersamanya.”

Mostefa Souag, Direktur Jenderal Al Jazeera, menyerukan kepada seluruh dunia, “Kita punya tanggung jawab besar untuk mengangkat suara para jurnalis pemberani di Gaza. Jika kita diam hari ini, kita sedang mencatat kegagalan sejarah, kita mengkhianati nilai-nilai luhur jurnalisme dan membiarkan suara kebenaran dibungkam dengan kelaparan dan peluru.”

Setidaknya 231 jurnalis Palestina telah dibunuh sejak invasi darat dimulai Oktober 2023. Di antaranya, lima jurnalis Al Jazeera: Samer Abudaqa, Hamza Dahdouh, Ismail al-Ghoul, Ahmed al-Louh, dan Hossam Shabat. Tak hanya itu, keluarga mereka pun menjadi target serangan.

Al Jazeera mendesak lembaga internasional untuk segera bertindak menghentikan kebijakan kelaparan paksa 'Israel', kebijakan yang bahkan tidak menyisakan ruang bagi mereka yang membawa suara kebenaran.

Bukan hanya Al Jazeera. Kantor berita Prancis AFP juga mengeluarkan peringatan mengerikan: untuk pertama kalinya dalam sejarahnya selama 80 tahun, mereka takut kehilangan rekan kerja karena kelaparan.

“Kami pernah mengalami luka perang, penjara, bahkan kematian di lapangan. Tapi belum pernah menghadapi ancaman kelaparan,” ujar Serikat Jurnalis AFP (SDJ) dalam pernyataannya.

Tim AFP di Gaza terdiri dari sembilan jurnalis lokal. Mereka telah berbulan-bulan hidup di bawah pengepungan, pengungsian, dan kini kelaparan akut. Tanpa makanan, air bersih, listrik, mereka tetap bekerja, berpindah lokasi dengan berjalan kaki atau naik gerobak keledai, karena kendaraan bermotor menjadi target serangan udara.

Salah satu jurnalis mereka, Bashar, menulis di Facebook: “Aku sudah tak kuat bekerja lagi. Tubuhku kurus kering. Saudaraku tumbang karena kelaparan.”

Meskipun gaji tetap dibayarkan, tidak ada yang bisa dibeli. Toko-toko kosong. Harga barang selangit. Sistem perbankan lumpuh. Bahkan mengambil uang tunai pun harus membayar komisi 40%.

Menurut data Kementerian Kesehatan Palestina, setidaknya 111 orang telah meninggal karena kelaparan, termasuk 81 anak-anak, sejak awal genosida pada Oktober 2023.

Pada pekan lalu saja, setiap 80 menit satu orang Palestina meninggal karena kelaparan. Laporan Euro-Med Monitor menyebut hal ini sebagai “kebijakan kelaparan sistematis terhadap dua juta warga Gaza.”

World Food Programme (WFP) pun memperingatkan: “Ribuan orang di Gaza kini berada di ambang kelaparan bencana. Satu dari tiga orang tidak makan selama berhari-hari.” (zarahamala/arrahmah.id)