Memuat...

Analis: Trump dan Netanyahu Tahu Hamas Akan Menolak Rencana Baru Mereka

Samir Musa
Selasa, 9 September 2025 / 17 Rabiulawal 1447 08:28
Analis: Trump dan Netanyahu Tahu Hamas Akan Menolak Rencana Baru Mereka
Analis: Trump dan Netanyahu Tahu Hamas Akan Menolak Rencana Baru Mereka

QATAR (Arrahmah.id) — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait perang di Gaza. Ia menyebut kemungkinan tercapainya sebuah “kesepakatan yang sangat baik” dalam waktu dekat, meski tanpa menjelaskan rinciannya. Trump hanya menekankan soal pembebasan semua tawanan “Israel”, baik yang masih hidup maupun jasad, sembari memperingatkan Hamas agar tidak menolak tawaran tersebut.

Menurut para analis, pernyataan Trump sepenuhnya mencerminkan agenda “Israel” dan berupaya melucuti semua kartu tawar-menawar yang dimiliki perlawanan Palestina, tanpa ada komitmen untuk mengakhiri perang. Lebih jauh, Trump bahkan melewati jalur para mediator dan memberi sinyal bahwa kendali sepenuhnya berada di tangannya, menantunya Jared Kushner, serta Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bersama Menteri Strategi “Israel” Ron Dermer.

Rencana “Israel” yang Diumumkan Trump

Dilansir dari Al Jazeera, peneliti urusan “Israel” Muhannad Mustafa menegaskan bahwa Trump sejatinya hanya mengumumkan proposal yang ditulis oleh pihak “Israel” sendiri. Proposal itu diyakini tak mungkin diterima Hamas, namun tetap diumumkan demi memberi waktu bagi “Israel” untuk melanjutkan penghancuran Gaza.

Bahkan sejumlah analis “Israel” juga heran dengan usulan yang mustahil diterima akal sehat tersebut. Menurut Mustafa, hal ini dipengaruhi oleh Dermer, dan bertujuan agar “Israel” bisa mendapatkan tawanan mereka, lalu menggagalkan perundingan dan kembali melanjutkan agresi.

Sementara itu, pengamat hubungan internasional Husam Shaker menyebut langkah AS sebagai sebuah “melodrama politik”. Ia menilai Washington hanya menjalankan seluruh kehendak “Israel”, sementara Gaza benar-benar dilenyapkan dari peta kehidupan. Shaker menyinggung klaim Trump soal penghancuran 50 “menara teror”, yang sejatinya merupakan gedung-gedung sipil dan bahkan ada yang berisi lembaga hak asasi manusia.

Meski demikian, Hamas menegaskan kesiapannya untuk berunding segera demi pembebasan seluruh tawanan dan penghentian perang. Namun gerakan perlawanan itu menekankan bahwa negosiasi harus mencakup penarikan penuh pasukan penjajah dari Gaza serta pembentukan pemerintahan sementara dari tokoh-tokoh independen Palestina.

Terjebak dalam Tawaran Sepihak

Menurut Shaker, posisi Hamas tetap sulit. Kesiapan mereka berunding justru dihadapkan pada tawaran yang sama sekali tak memberi keuntungan bagi rakyat Palestina. Hal ini, katanya, merupakan bagian dari skenario “Israel” untuk menggiring perlawanan ke dalam kebuntuan.

Thomas Warrick, mantan pejabat Kementerian Luar Negeri AS, menambahkan bahwa rencana baru Trump kali ini mengandung dimensi berbeda: ia menyebut soal kemungkinan berdirinya negara Palestina berdampingan dengan “Israel”. Namun, detailnya tidak jelas, dan tetap menegaskan bahwa pihak Palestina tidak berhak mendapatkan imbalan apapun selain berhentinya penghancuran Gaza.

Perlawanan Terus Lakukan Operasi

Di lapangan, dikutip dari Al Jazeera, Hamas dan faksi perlawanan melancarkan serangan yang menimbulkan kerugian signifikan di pihak musuh. Senin lalu, tiga pejuang menyerang sebuah tank di kawasan Sheikh Radwan, Gaza, menewaskan empat tentara “Israel”. Sebelumnya, perlawanan juga berhasil meledakkan kendaraan lapis baja Puma yang menewaskan tujuh serdadu penjajah.

Pakar militer Elias Hanna menilai operasi-operasi ini menunjukkan perebutan ruang yang terus berlangsung. Tentara penjajah berusaha menguasai wilayah darat dan infrastruktur, sementara perlawanan berupaya menimpakan kerugian besar bagi pasukan musuh.

Hanna juga menilai bahwa klaim Netanyahu soal penghancuran menara-menara tinggi di Gaza tidak logis, sebab perlawanan tidak bertahan di bangunan tinggi melainkan di terowongan dan jalur darat.

Tentara “Israel” Hadapi Krisis Moral

Sementara itu, Kepala Staf tentara “Israel” Eyal Zamir dilaporkan menggelar pertemuan dengan para komandan keamanan untuk membahas moral pasukan dan dampak perang berkepanjangan. Menurut Hanna, militer penjajah berada dalam dilema: menambah jumlah pasukan akan memperbesar target bagi perlawanan, sementara mengurangi jumlah prajurit justru membuat mereka mudah disergap.

Dalam kondisi meningkatnya angka korban, depresi, dan bahkan bunuh diri di kalangan tentara, Hanna menegaskan bahwa krisis moral ini semakin menekan militer “Israel”. Ia menutup analisanya dengan menyebut Trump hanya menerapkan “teori linear” tanpa peduli pada realitas konflik Arab–“Israel” maupun tragedi kemanusiaan yang sedang berlangsung.

(Samirmusa/arrahmah.id)