DAMASKUS (Arrahmah.id) - Presiden Suriah Ahmad Asy Syaraa menandatangani dekrit pada Jumat malam (16/1/2026) yang bertujuan untuk melindungi hak-hak Kurdi di Suriah, termasuk perlindungan terhadap diskriminasi etnis dan bahasa, di tengah bentrokan yang kembali terjadi antara pasukan Kurdi yang didukung AS dan Damaskus.
Dalam sebuah video yang diunggah di akun X-nya, Asy Syaraa berbicara langsung kepada penduduk Kurdi, mengatakan bahwa dekrit tersebut, "yang akan dilindungi oleh teks hukum," akan menjamin hak-hak mereka sebagai warga negara yang setara, lansir Al Arabiya (17/1).
Ia juga menyerukan kepada pengungsi Kurdi-Suriah untuk kembali ke kota dan desa mereka, dengan mengatakan bahwa tidak akan ada prasyarat selain meletakkan senjata mereka.
Dekrit lengkap, yang diterbitkan kemudian, menetapkan bahwa bahasa Kurdi akan diakui sebagai "bahasa nasional" di Suriah dan menyatakan Nowruz sebagai hari libur nasional.
Selain itu, dekrit tersebut menyerukan pemberian kewarganegaraan Suriah kepada penduduk Kurdi yang dicabut kewarganegaraannya berdasarkan sensus kontroversial tahun 1962. Dekrit tersebut juga mewajibkan lembaga-lembaga negara untuk mempromosikan wacana nasional yang inklusif dan menjunjung tinggi hak-hak yang setara bagi semua komunitas.
Pengumuman ini muncul di tengah ketegangan yang terus berlanjut di Suriah utara, di mana bentrokan telah berkobar antara pasukan Kurdi dan pasukan pemerintah meskipun upaya internasional untuk menstabilkan wilayah tersebut terus dilakukan.
Pasukan militer AS bertemu dengan mitra Kurdi di Deir Hafer, Suriah, pada Jumat sebagai bagian dari upaya Washington untuk menstabilkan daerah tersebut, klaim Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM). “Suriah yang damai sangat penting untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di seluruh wilayah,” kata Juru Bicara CENTCOM, Kapten Tim Hawkins, kepada Al Arabiya.
Kepala SDF, Mazloum Abdi, mengatakan pada Jumat bahwa kelompok tersebut akan menarik pasukan mereka dari timur Aleppo pada pukul 7 pagi waktu setempat pada Sabtu dan mengerahkan kembali mereka ke daerah-daerah di timur Sungai Eufrat, dengan alasan seruan dari negara-negara sahabat dan mediator. (haninmazaya/arrahmah.id)
