WASHINGTON (Arrahmah.id) -- Pasukan militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara besar di barat laut Suriah yang menewaskan seorang pemimpin militan terafiliasi Al Qaeda yang memiliki hubungan langsung dengan serangan mematikan terhadap pasukan AS, menurut pernyataan resmi U.S. Central Command (CENTCOM) pada Sabtu (17/1/2026).
Komando Pusat AS menyatakan, seperti dilansir The Defence industry (18/1/2026), bahwa target yang dibunuh dalam serangan pada 16 Januari 2026 di wilayah Suriah barat laut itu diidentifikasi sebagai Bilal Hasan al-Jasim, yang disebut memiliki hubungan langsung dengan anggota kelompok militan Islamic State (ISIS) yang menewaskan dua personel militer AS dan seorang penerjemah sipil di Palmyra pada 13 Desember 2025.
Dalam pernyataannya, Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper mengatakan bahwa kematian al-Jasim merupakan “bukti tekad kami untuk mengejar teroris yang menyerang pasukan kami,” dan menambahkan bahwa tidak ada tempat aman bagi mereka yang merencanakan atau melaksanakan serangan terhadap warga dan pasukan AS.
Serangan itu merupakan bagian dari Operation Hawkeye Strike, kampanye militer AS yang diluncurkan pada Desember 2025 sebagai respons langsung atas serangan di Palmyra.
Dalam operasi besar itu, AS melibatkan seluruh koalisi internasionalnya yang menargetkan infrastruktur serta posisi ISIS di seluruh Suriah.
CENTCOM menyatakan operasi tersebut telah mengenai lebih dari 100 target infrastruktur dan lokasi senjata kelompok militan tersebut dengan ratusan amunisi berpemandu presisi.
Langkah militer ini terjadi di tengah meningkatnya isu keamanan regional, termasuk ancaman dari kelompok militan yang mencoba meregenerasi jaringan mereka setelah kekalahan formal pemerintahan Assad di Suriah pada akhir 2024.
Serangan terbaru dilihat sebagai upaya AS untuk memastikan bahwa ISIS dan faksi terkait tidak kembali menjadi ancaman signifikan terhadap pasukan AS atau sekutu di kawasan.
Sejauh ini belum ada komentar resmi dari pemerintah Suriah ataupun kelompok militan di Suriah mengenai serangan tersebut. Namun penembakan itu juga mendapat sorotan dari pihak internasional, yang menekankan perlunya tindakan kolektif untuk menghentikan kelompok militan lintas batas yang memicu kekerasan yang melibatkan pasukan asing. (hanoum/arrahmah.id)
