GAZA (Arrahmah.id) - Sumber dari layanan ambulans dan gawat darurat di Jalur Gaza melaporkan adanya sejumlah korban luka akibat serangan udara Israel yang menghantam sebuah rumah di kawasan Al-Tuffah, di timur laut Kota Gaza. Sementara itu, militer Israel mengklaim bahwa serangan tersebut menargetkan seorang pimpinan Hamas di wilayah utara Gaza.
Koresponden Al Jazeera menyebutkan bahwa serangan udara itu menyasar sebuah rumah di Jalan Yafa, di luar area penyebaran pasukan pendudukan Israel di kawasan Al-Tuffah yang terletak di timur Kota Gaza. Sumber medis di Rumah Sakit Baptis (Al-Ma‘madani) menggambarkan kondisi sejumlah korban luka sebagai serius.
Di sisi lain, kantor berita Anadolu melaporkan bahwa dua warga Palestina gugur akibat serangan udara Israel yang menargetkan sebuah rumah di kawasan Al-Tuffah, timur Kota Gaza, sementara tiga orang lainnya mengalami luka-luka.
Militer Israel dalam pernyataannya mengklaim bahwa pasukannya telah menyerang seorang tokoh senior Hamas yang diduga tengah merencanakan serangan terhadap pasukan Israel di Gaza utara, serta menyatakan bahwa operasi tersebut merupakan respons atas tembakan yang diarahkan ke pasukannya.
Pernyataan itu juga menyebutkan bahwa kelompok bersenjata Hamas sebelumnya pada Rabu pagi melepaskan tembakan ke arah wilayah tempat pasukan Israel dikerahkan di Gaza utara. Militer Israel menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap perjanjian gencatan senjata, menurut klaim mereka.
Sementara itu, Radio Militer Israel melaporkan bahwa target serangan tersebut adalah seorang pimpinan Brigade Al-Qassam dengan pangkat komandan batalion.
Serangan ini merupakan bagian dari pelanggaran Israel yang terus berlanjut terhadap kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober tahun lalu, yang hingga kini telah menyebabkan 424 warga Palestina gugur dan 1.199 lainnya terluka, berdasarkan data terbaru Kementerian Kesehatan Gaza.
Sejak 8 Oktober 2023, Israel melancarkan perang genosida di Gaza yang berlangsung selama dua tahun, dengan jumlah korban melampaui 71 ribu syuhada dan 171 ribu luka-luka, disertai kehancuran besar yang mencapai 90 persen infrastruktur sipil. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan biaya rekonstruksi mencapai sekitar 70 miliar dolar AS. (zarahamala/arrahmah.id)
