GAZA (Arrahmah.id) -- Kelompok perlawanan Palestina Hamas menyatakan kesiapannya untuk mengakhiri pemerintahan yang selama ini mereka jalankan di Gaza setelah sebuah badan kepemimpinan teknokrat Palestina mulai mengambil alih kendali wilayah tersebut.
Langkah ini merupakan bagian dari rencana perdamaian yang dimediasi oleh Amerika Serikat (AS). Meski demikian, Hamas belum mengungkapkan jadwal pasti terkait peralihan kekuasaan tersebut.
Hingga kini, seperti dilansir PBS (12/1/2026), baik Hamas maupun Otoritas Palestina, yang diakui secara internasional sebagai perwakilan resmi Palestina, belum mengumumkan susunan anggota komite teknokrat itu.
Para teknokrat tersebut direncanakan berasal dari kalangan nonpartisan, namun belum dapat dipastikan apakah keberadaan mereka akan mendapatkan persetujuan dari Israel dan Amerika Serikat.
Dalam kerangka rencana tersebut, sebuah lembaga internasional bernama “Dewan Perdamaian”, yang diprakarsai oleh mantan Presiden AS Donald Trump, direncanakan bertugas mengawasi pemerintahan Gaza serta berbagai aspek pelaksanaan gencatan senjata yang mulai berlaku sejak 10 Oktober.
Mandat dewan ini mencakup pelucutan senjata Hamas dan penempatan pasukan keamanan internasional. Namun, hingga saat ini, komposisi keanggotaan dewan tersebut belum diumumkan secara resmi.
Di tengah proses politik ini, korban jiwa di Gaza dilaporkan masih terus bertambah. Pejabat rumah sakit Palestina menyebutkan bahwa tiga warga Palestina tewas akibat tembakan 'Israel', meskipun gencatan senjata telah diberlakukan.
Gencatan senjata tersebut diawali dengan penghentian pertempuran serta pertukaran sandera yang ditahan di Gaza dengan ribuan warga Palestina yang dipenjara oleh 'Israel'. Kesepakatan ini masih berada pada tahap awal, sementara upaya pencarian jenazah sandera terakhir yang diduga masih berada di Gaza terus dilakukan.
Seorang pejabat Mesir, yang meminta identitasnya dirahasiakan, mengungkapkan bahwa Hamas telah mengirimkan delegasi untuk melakukan pembicaraan dengan perwakilan Mesir, Qatar, dan Turki guna membahas langkah-langkah menuju fase kedua kesepakatan.
Dalam pernyataan yang disampaikan melalui kanal Telegram pada Minggu, juru bicara Hamas Hazem Kassem mendesak agar pembentukan komite teknokrat segera dipercepat.
Pejabat Mesir tersebut menambahkan bahwa Hamas dijadwalkan bertemu dengan faksi-faksi Palestina lainnya pada pekan ini guna memfinalisasi pembentukan komite tersebut. Delegasi Hamas akan dipimpin oleh negosiator utama mereka, Khalil Al-Hayya. (hanoum/arrahmah.id)
