GAZA (Arrahmah.id) -- Sebuah milisi Palestina yang didukung 'Israel' mengumumkan pada Rabu bahwa mereka telah menewaskan dua anggota kelompok perlawanan Palestina Hamas dalam sebuah operasi di Rafah, Gaza selatan, menyoroti meningkatnya ketergantungan 'Israel' pada kelompok bersenjata proksi untuk menantang Hamas di wilayah yang berada di bawah kendali militernya.
Kelompok bersenjata yang menamakan diri Popular Forces menyatakan, seperti dilansir The New Arab (13/1/2026), bahwa mereka melakukan penggerebekan di Rafah. tak kurang dua anggota Hamas tewas karena menolak menyerah serta satu orang lainnya ditahan.
Kelompok itu juga membagikan sebuah foto yang diklaim memperlihatkan salah satu korban tewas. Klaim tersebut tidak dapat diverifikasi secara independen, menurut Reuters.
Hamas, yang selama ini melabeli kelompok-kelompok semacam itu sebagai “kolaborator”, menolak berkomentar atas klaim Popular Forces. Rafah berada di wilayah yang berada di bawah kendali Israel berdasarkan kesepakatan Israel–Hamas yang dicapai pada Oktober lalu.
Popular Forces didirikan oleh Yasser Abu Shabab, seorang pemimpin bersenjata Bedouin yang dikenal anti-Hamas. Abu Shabab tewas pada Desember dalam insiden yang disebut kelompoknya sebagai perselisihan keluarga, dan posisinya digantikan oleh wakilnya, Ghassan Duhine, yang berjanji melanjutkan konfrontasi terhadap Hamas. Kelompok tersebut, bersama milisi sejenis, melaporkan peningkatan jumlah rekrutan sejak kesepakatan Oktober mulai berlaku.
Kemunculan dan aktivitas kelompok-kelompok ini—meski masih kecil dan terlokalisasi—menambah ketidakstabilan di Gaza dan menyoroti strategi 'Israel' memanfaatkan faksi bersenjata rival Hamas. Para pengamat menilai pendekatan ini berpotensi menghambat upaya stabilisasi dan reunifikasi Gaza setelah dua tahun perang.
Milisi-milisi tersebut tetap tidak populer di kalangan warga, terutama karena beroperasi di bawah otoritas 'Israel'. Hampir seluruh dari sekitar dua juta penduduk Gaza tinggal di wilayah yang dikuasai Hamas, di mana kelompok itu disebut telah memulihkan cengkeramannya dan masih memiliki ribuan personel, meski mengalami pukulan berat selama perang.
Sementara itu, 'Israel' masih menguasai lebih dari separuh wilayah Gaza, area-area tempat musuh Hamas beroperasi di luar jangkauan kelompok tersebut. Dengan rencana Presiden AS Donald Trump terkait Gaza berjalan lambat, tidak ada prospek penarikan 'Israel' lebih lanjut dalam waktu dekat.
Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu pada Juni lalu mengakui dukungan 'Israel' terhadap kelompok anti-Hamas, dengan menyatakan bahwa 'Israel' telah “mengaktifkan” klan-klan setempat, meski pemerintah 'Israel' sejak itu memberikan sedikit rincian mengenai bentuk dukungan tersebut. (hanoum/arrahmah.id)
