Memuat...

Teheran Beri Peringatan Keras, 'Israel' dan Pangkalan AS Akan Jadi Target Jika Iran Diserang

Zarah Amala
Senin, 12 Januari 2026 / 23 Rajab 1447 11:00
Teheran Beri Peringatan Keras, 'Israel' dan Pangkalan AS Akan Jadi Target Jika Iran Diserang
Para demonstran anti-rezim Iran ikut serta dalam demonstrasi di luar kedutaan Iran di pusat kota London pada 10 Januari 2026 (AFP/Carlos Jasso)

TEHERAN (Arrahmah.id) - Iran memperingatkan bahwa pihaknya akan menyerang 'Israel' dan pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat jika wilayah Iran diserang, menyusul gelombang protes yang terus meningkat selama beberapa pekan terakhir di negara tersebut.

Sedikitnya 192 orang dilaporkan tewas dalam gelombang protes terbesar terhadap pemerintah Iran dalam lebih dari tiga tahun terakhir, menurut organisasi Iran Human Rights. Lembaga swadaya masyarakat yang berbasis di Norwegia itu memperingatkan bahwa jumlah korban tewas “bisa jauh lebih besar daripada yang saat ini dapat kami perkirakan”.

Iran telah mengalami pemadaman internet selama lebih dari 60 jam, menurut pemantau jaringan Netblocks, sehingga menyulitkan verifikasi informasi, termasuk jumlah korban tewas.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam beberapa hari terakhir mengancam akan turun tangan, serta memperingatkan para pemimpin Iran agar tidak menggunakan kekerasan terhadap para demonstran. Pada Sabtu (10/1/2026), Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat “siap membantu”.

“Iran sedang menatap KEBEBASAN, mungkin seperti belum pernah terjadi sebelumnya. Amerika Serikat siap membantu!!!” tulis Trump di platform Truth Social.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, pada Ahad (11/1) memperingatkan agar tidak terjadi “salah perhitungan”.

“Perlu kami tegaskan: jika terjadi serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan ['Israel'] serta seluruh pangkalan dan kapal Amerika Serikat akan menjadi target sah bagi kami,” kata Qalibaf, mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Ahad (11/1) mengatakan bahwa Amerika Serikat dan Israel ingin “menyemai kekacauan dan ketidakstabilan” di Iran dengan mengarahkan “kerusuhan”. Ia menyerukan kepada rakyat Iran untuk menjauh dari “perusuh dan teroris”.

Tiga sumber 'Israel' yang hadir dalam konsultasi keamanan Israel selama akhir pekan mengatakan kepada Reuters bahwa 'Israel' berada dalam status siaga tinggi, meski tidak merinci bentuk kesiagaan tersebut.

'Israel' dan Iran sebelumnya terlibat perang selama 12 hari pada Juni lalu, di mana Amerika Serikat ikut bergabung bersama 'Israel' dalam menyerang wilayah Iran.

Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio disebut telah membahas kemungkinan intervensi Amerika Serikat di Iran, menurut sumber 'Israel' yang dikutip Reuters.

Seorang pejabat intelijen senior Amerika Serikat menggambarkan situasi di Iran kepada Reuters sebagai “permainan ketahanan”.

Pejabat tersebut mengatakan bahwa pihak oposisi berupaya mempertahankan tekanan hingga tokoh-tokoh penting pemerintah melarikan diri atau berbalik arah, sementara otoritas berusaha menebar rasa takut agar jalanan kembali sepi tanpa memberi alasan bagi Amerika Serikat untuk melakukan intervensi.

Hingga kini, 'Israel' belum secara terbuka menyatakan keinginannya untuk campur tangan.

Netanyahu mengatakan kepada majalah The Economist pada Jumat (9/1) bahwa akan ada konsekuensi yang mengerikan bagi Iran jika menyerang Israel. Merujuk pada gelombang protes, ia berkata, “Untuk hal-hal lainnya, saya pikir kita perlu melihat apa yang sedang terjadi di dalam Iran.”

“Pembantaian sedang berlangsung”

Aksi-aksi demonstrasi bermula dua pekan lalu akibat melonjaknya inflasi, namun dengan cepat berubah menjadi gerakan politik dan berkembang menjadi perlawanan terhadap Republik Islam Iran.

Meski terjadi pemadaman internet, sejumlah video demonstrasi besar di Teheran dan kota-kota lain berhasil beredar. Pada Sabtu malam, rekaman menunjukkan unjuk rasa di ibu kota serta di Mashhad, di wilayah timur, di mana sejumlah kendaraan dibakar.

Televisi pemerintah melaporkan bahwa “perusuh” membakar sebuah masjid di Mashhad pada malam hari.

Kepala keamanan Iran, Ali Larijani, mengatakan bahwa ia membedakan antara protes akibat kesulitan ekonomi, yang ia sebut “sepenuhnya dapat dipahami”, dengan “kerusuhan”, yang menurutnya “sangat mirip dengan metode kelompok teroris”, sebagaimana dilaporkan kantor berita Tasnim.

Pusat Hak Asasi Manusia di Iran yang berbasis di Amerika Serikat menyatakan telah menerima “kesaksian langsung dan laporan kredibel yang menunjukkan bahwa ratusan demonstran telah tewas di seluruh Iran selama pemadaman internet berlangsung”.

“Pembantaian sedang berlangsung di Iran. Dunia harus bertindak sekarang untuk mencegah jatuhnya lebih banyak korban jiwa,” kata lembaga tersebut.

Disebutkan pula bahwa rumah sakit kewalahan, persediaan darah menipis, dan banyak demonstran ditembak secara sengaja di bagian mata.

Sedikitnya 37 anggota pasukan keamanan Iran juga tewas, menurut organisasi HRANA yang berbasis di Amerika Serikat.

Televisi pemerintah menayangkan prosesi pemakaman pasukan keamanan yang tewas dalam aksi protes di kota Gachsaran dan Yasuj, serta melaporkan bahwa 30 anggota pasukan keamanan akan dimakamkan di wilayah Isfahan bagian tengah. (zarahamala/arrahmah.id)

IranHeadlineIsraelASaksi protesancaman