Memuat...

Hamas Beri Syarat Keras: Tak Ada Negosiasi Selama Rakyat Gaza Masih Kelaparan

Zarah Amala
Jumat, 1 Agustus 2025 / 8 Safar 1447 09:00
Hamas Beri Syarat Keras: Tak Ada Negosiasi Selama Rakyat Gaza Masih Kelaparan
Kebijakan kelaparan 'Israel' di Gaza telah menyebabkan 159 orang menjadi martir, termasuk 90 anak-anak (Reuters)

GAZA (Arrahmah.id) - Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) pada Kamis (31/7/2025) menegaskan bahwa pihaknya siap untuk kembali terlibat dalam perundingan secara langsung dan segera, apabila bantuan kemanusiaan benar-benar sampai kepada warga yang membutuhkan dan kelaparan di Gaza dihentikan.

Dalam pernyataan resminya, Hamas menilai bahwa melanjutkan perundingan di tengah situasi kelaparan hanya akan mengosongkan proses tersebut dari makna dan manfaatnya, apalagi setelah 'Israel' menarik diri secara sepihak dari meja perundingan tanpa alasan yang jelas.

Hamas menyebut bahwa "strategi kelaparan" yang diterapkan oleh pendudukan 'Israel' telah mencapai tingkat yang tak tertahankan, dan kini menjadi ancaman paling mematikan bagi kehidupan lebih dari dua juta warga Palestina di Jalur Gaza.

Gerakan itu menyerukan kepada masyarakat internasional dan semua pihak terkait untuk segera bertindak menghentikan "pembantaian massal" yang dilakukan oleh pendudukan 'Israel'.

Hamas juga menuntut agar bantuan pangan disalurkan segera kepada rakyat Palestina tanpa syarat apapun, serta menjamin keamanannya dari penyitaan maupun sabotase.

Kondisi Lapar Akut dan Kematian Massal

Sebelumnya pada hari yang sama, Kementerian Kesehatan di Gaza mengumumkan bahwa dua warga lagi meninggal dunia dalam 24 jam terakhir akibat kelaparan dan malnutrisi. Dengan demikian, total korban jiwa akibat kelaparan telah mencapai 159 syahid, termasuk 90 anak-anak.

Sementara itu, UNICEF (Badan Anak-anak PBB) memperingatkan bahwa "setiap jam yang berlalu, semakin banyak anak-anak yang meninggal" di Jalur Gaza karena kelaparan ekstrem.

Program Pangan Dunia (WFP) juga mengeluarkan peringatan keras bahwa gelombang kelaparan yang memburuk di Gaza “tidak akan bisa dihentikan kecuali dengan peningkatan drastis dalam jumlah bantuan kemanusiaan.”

WFP menegaskan bahwa setidaknya 100 truk bantuan harus masuk ke Gaza setiap hari, seraya memperingatkan, "Kita tidak punya waktu untuk menunda.”

Tragedi Distribusi Bantuan oleh Lembaga Bayangan

Sejak Mei 2025, saat distribusi bantuan dikendalikan oleh "Gaza Humanitarian Relief Foundation", lembaga yang didukung oleh Amerika Serikat dan 'Israel', lebih dari 800 warga Palestina gugur dan ribuan lainnya terluka akibat tembakan langsung oleh tentara pendudukan dan kontraktor bersenjata swasta yang menjaga lokasi distribusi bantuan.

Laporan terbaru menunjukkan bahwa lokasi-lokasi distribusi bantuan kini telah berubah menjadi “jebakan maut” yang secara sistematis menghabisi warga kelaparan yang datang untuk mencari makan. Amerika Serikat dan 'Israel' dituding berada di balik skema ini.

Dalam situasi ini, seruan Hamas bukan sekadar ajakan diplomatis, tetapi ultimatum moral, tidak ada perundingan di bawah todongan kelaparan. Selama dunia membiarkan warga Gaza mati dalam antrian bantuan yang dijaga tentara dan kontraktor bersenjata, "perdamaian" hanyalah propaganda kosong. (zarahamala/arrahmah.id)