Memuat...

Hamas: Pembantaian Al-Sabra Bertujuan Merusak Penerapan Perjanjian Gencatan Senjata

Zarah Amala
Jumat, 10 Oktober 2025 / 19 Rabiulakhir 1447 09:45
Hamas: Pembantaian Al-Sabra Bertujuan Merusak Penerapan Perjanjian Gencatan Senjata
Pembantaian di wilayah Sabra, Gaza, menyebabkan puluhan orang tewas dan hilang (media sosial)

GAZA (Arrahmah.id) - Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) menyerukan kepada para mediator dan pemerintah Amerika Serikat untuk memikul tanggung jawab mereka terhadap “kejahatan brutal” yang terus dilakukan oleh pasukan pendudukan 'Israel' di Jalur Gaza.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis Kamis malam (9/10/2025), Hamas mendesak intervensi segera guna menghentikan serangan terhadap anak-anak dan warga sipil tak bersenjata, menyusul pembantaian terbaru yang dilakukan 'Israel' di lingkungan as-Sabra, di tengah Kota Gaza, yang menewaskan, melukai, dan menyebabkan hilangnya puluhan warga, sebagian besar masih tertimbun di bawah reruntuhan.

Hamas menyebut pembantaian itu sebagai “upaya disengaja untuk menggagalkan implementasi kesepakatan gencatan senjata” yang baru saja diumumkan.

Menurut pernyataan tersebut, serangan udara 'Israel' yang menargetkan rumah keluarga Ghabbon di sebelah barat Kota Gaza “menewaskan dan melukai lebih dari 70 warga sipil tak bersenjata.”

“Dengan kejahatan ini, pemerintahan penjahat perang Benjamin Netanyahu berupaya mengacaukan situasi, mengganggu upaya para mediator, dan menunda pelaksanaan kesepakatan penghentian perang dan agresi di Gaza,” tegas Hamas.

Gerakan itu menambahkan bahwa pembunuhan dan serangan sistematis terhadap warga sipil, termasuk perempuan, anak-anak, dan lansia, “menunjukkan wajah sejati entitas penjajah yang haus darah dan tekad pemerintahannya untuk melanjutkan genosida hingga detik terakhir.”

Serangan dan Proses Politik yang Kontras

Sebelumnya pada Kamis sore (9/10), sumber medis Palestina dan pertahanan sipil melaporkan bahwa empat warga Palestina gugur dan sekitar 40 orang hilang setelah serangan udara 'Israel' menghantam rumah keluarga Ghabbon di Jalan as-Thalathini di lingkungan as-Sabra, selatan Kota Gaza.

Tim penyelamat dilaporkan masih bekerja di lokasi kejadian dalam kondisi yang “sangat sulit dan berbahaya.”

Serangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa 'Israel' dan Hamas telah mencapai kesepakatan tahap pertama dalam rencana gencatan senjata dan pertukaran tahanan.

Di saat yang sama, kabinet 'Israel' tengah menggelar rapat untuk membahas dan memberikan suara atas kesepakatan tersebut. Namun, menurut laporan Yedioth Ahronoth, pemungutan suara belum dilakukan hingga Kamis malam, dan sidang pemerintah yang lebih luas juga ditunda.

Media penyiaran 'Israel' mengutip sumber militer yang mengklaim bahwa serangan di as-Sabra dilakukan dengan persetujuan Kepala Staf Eyal Zamir, dengan dalih bahwa bangunan tersebut digunakan untuk “aktivitas yang mengancam pasukan 'Israel'.”

Sementara itu, juru bicara militer 'Israel', Avichay Adraee, menulis di X bahwa pasukannya menargetkan “sel Hamas di utara Jalur Gaza” yang disebutnya menimbulkan “ancaman langsung dan segera.”

Menurut perkiraan otoritas 'Israel', masih ada 48 tawanan 'Israel' di Gaza, 20 di antaranya diyakini masih hidup, sementara di penjara-penjara 'Israel' terdapat lebih dari 11.100 tahanan Palestina yang mengalami penyiksaan, kelaparan, dan kelalaian medis. Banyak di antara mereka dilaporkan meninggal akibat kondisi tersebut, menurut laporan hak asasi manusia Palestina dan 'Israel'. (zarahamala/arrahmah.id)