WASHINGTON (Arrahmah.id) – Media Amerika melaporkan bahwa "Israel" tengah bersiap meluncurkan serangan darat besar-besaran ke Jalur Gaza. Menurut The Wall Street Journal, militer "Israel" berencana memperluas serangan dengan kekuatan lebih besar serta mempertahankan kehadiran militernya di dalam wilayah Gaza. Selain itu, "Israel" kemungkinan akan mengambil alih distribusi bantuan di wilayah yang mereka kepung.
Laporan tersebut juga mencatat bahwa dukungan publik "Israel" terhadap perang semakin melemah. Banyak warga yang mulai percaya bahwa satu-satunya cara untuk mengembalikan tawanan adalah melalui negosiasi, bukan perang berkepanjangan.
Di sisi lain, Foreign Policy mengutip mantan negosiator Departemen Luar Negeri AS, Aaron David Miller, yang menilai bahwa serangan udara "Israel" ke Gaza lebih didorong oleh tekanan politik dalam negeri yang dihadapi Benjamin Netanyahu. Menurutnya, kemungkinan fase kedua dari perjanjian gencatan senjata terlaksana sangat kecil, sebab Hamas tidak akan melepaskan tawanan tanpa jaminan kuat—sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh PBB maupun Washington. Ia juga menegaskan bahwa Hamas tidak akan bisa dihancurkan sepenuhnya, dan pengaruhnya di Gaza akan tetap kuat.
Serangan Brutal Saat Sahur
Selasa dini hari, "Israel" kembali melancarkan serangan udara besar-besaran yang menghantam sebagian besar wilayah Gaza. Serangan mendadak ini menyasar warga sipil saat waktu sahur, menewaskan lebih dari 440 warga Palestina dan melukai 562 lainnya, termasuk banyak korban dalam kondisi kritis. Dua pertiga korban adalah wanita dan anak-anak, menurut laporan Euro-Med Human Rights Monitor.
Di tengah eskalasi ini, Hamas menegaskan bahwa mereka terus berkomunikasi dengan mediator internasional untuk menghentikan agresi "Israel". Namun, mereka menolak adanya perjanjian baru, menegaskan bahwa sudah ada kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya dilanggar oleh "Israel".
Sementara itu, Netanyahu menyatakan bahwa "Israel" akan terus meningkatkan serangan dan bahwa negosiasi hanya akan berlangsung "di bawah hujan bom."
Sejak 7 Oktober 2023, dengan dukungan penuh dari AS, "Israel" telah melakukan serangan yang disebut sebagai genosida di Gaza, menewaskan lebih dari 160 ribu warga Palestina, mayoritas wanita dan anak-anak, sementara lebih dari 14 ribu orang masih hilang di bawah reruntuhan.
(Samirmusa/arrahmah.id)
