GAZA (Arrahmah.id) - Meski militer 'Israel' sempat mengumumkan bahwa rencana pendudukan Gaza City akan dimulai pada 7 Oktober, invasi di lapangan ternyata sudah berlangsung sejak awal Agustus.
Pada 10 Agustus, pasukan darat 'Israel' bergerak masuk ke kawasan timur Gaza City, tepatnya di lingkungan al-Zaytoun, salah satu permukiman terbesar kota tersebut yang berbatasan langsung dengan koridor Netzarim di selatan.
Penduduk setempat mengaku menerima panggilan telepon dari militer 'Israel' yang memerintahkan mereka untuk segera meninggalkan rumah dan mengungsi ke Jalur Gaza bagian selatan. Tak lama setelah itu, serangan udara dan artileri gencar menghantam kawasan padat penduduk itu tanpa henti.
Menurut juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, serangan terbaru 'Israel' di timur Gaza dimulai 10 Agustus dengan menghancurkan gedung-gedung yang menghadap ke koridor Netzarim. “Dalam sembilan hari saja, 450 bangunan di al-Zaytoun hancur,” ujarnya.
Basal menambahkan, pada Selasa malam (19/8/2025) tank-tank 'Israel' sempat merangsek sejauh 150 meter hingga mencapai klinik Sabra di al-Zaytoun sebelum mundur pada Rabu dini hari (20/8). Namun, artileri tetap menghujani kawasan itu hingga menyebabkan kerusakan masif.
Sekitar 80 persen warga telah mengungsi, tetapi sebagian lainnya bertahan karena tidak memiliki tempat tujuan. “Banyak keluarga yang sudah pernah mengungsi ke kamp dan tenda, mereka tidak ingin mengulang pengalaman pahit itu,” kata Basal. Ia memperingatkan, bila 'Israel' benar-benar menduduki Gaza City, lebih dari satu juta jiwa akan berada dalam ancaman langsung.
Kesaksian Warga: ‘Tak Ada Lagi Tempat untuk Pergi’
Huda Abdul Rahman, pengungsi dari Gaza utara yang sempat menetap di al-Zaytoun, menceritakan bahwa serangan artileri jatuh sembarangan di sekitar rumah-rumah warga tanpa peringatan. “Kami menerima telepon agar meninggalkan al-Zaytoun menuju Mawasi, tapi daerah kami sudah hancur saat ditinggalkan,” ungkapnya.
Saat mencoba kembali, keluarganya menemukan tank-tank 'Israel' telah ditempatkan di sisi timur al-Zaytoun. “Saya tak bisa kembali ke rumah selama kendaraan tempur itu ada di sana,” tambahnya.
‘Tujuan Mereka Menghapus Kota Tua Gaza’
Abdul Aziz al-Dahdouh, warga al-Zaytoun lain, mengungkapkan kekhawatiran bahwa Kota Tua Gaza, satu-satunya bagian yang belum hancur, juga akan segera diratakan. “Tidak ada tujuan militer, mereka hanya ingin menghapus kota bersejarah ini dari peta,” ujarnya.
Menurutnya, wilayah-wilayah seperti Kashko, al-Siyam, al-Sharqiya, al-Maslakh, al-Nadim, hingga Jalan Salah al-Din di selatan Route 8 semuanya hancur dalam beberapa hari terakhir. Bahkan kehancuran sudah meluas ke lingkungan al-Sabra di sebelah barat.
“Ini adalah perataan historis,” kata al-Dahdouh. “Semua tanda dan bangunan dihapus. Pendudukan ingin memusnahkan warisan Gaza.”
Meski demikian, ia menegaskan warga tetap menanti kesempatan untuk kembali. “Begitu saya dengar Hamas menerima usulan Mesir untuk gencatan senjata, saya coba kembali ke rumah. Tapi kendaraan dan tank masih berjaga di sekitar rumah kami. Saya terpaksa mundur, takut terkena tembakan tank atau sniper,” ujarnya. (zarahamala/arrahmah.id)
