WASHINGTON (Arrahmah.id) - Militer Amerika Serikat dikabarkan telah menyodorkan rencana operasi khusus berskala raksasa kepada Presiden Donald Trump. Tujuannya bukan untuk mengebom, melainkan menyita secara fisik sekitar 1.000 pon (hampir 500 kg) uranium yang diperkaya hingga 60% dari fasilitas bawah tanah Iran.
Operasi ini digambarkan oleh para ahli sebagai misi paling berbahaya dalam sejarah pasukan khusus karena menggabungkan pertempuran intensitas tinggi dengan teknik pertambangan bawah tanah.
Rencana operasi "Pencurian Nuklir" ini dirancang secara sistematis untuk melumpuhkan ancaman nuklir Iran tanpa memicu polusi radiasi skala besar yang berisiko muncul dari pengeboman langsung.
Tahap awal misi ini akan melibatkan invasi udara masif melalui pengerahan ribuan tentara elit dari Divisi Lintas Udara 82 dan Rangers guna menguasai serta mengamankan perimeter fasilitas nuklir strategis, khususnya di wilayah sekitar Isfahan.
Di tengah situasi pertempuran yang masih bergejolak, tim zeni tempur memegang peran krusial untuk membangun landasan pacu darurat di jantung wilayah musuh agar pesawat kargo raksasa serta alat berat dapat mendarat dengan aman.
Setelah area permukaan terkendali, pasukan khusus seperti Delta Force atau Navy SEALs akan memulai fase penetrasi yang dikenal sebagai Operasi Abyss, yakni masuk ke kedalaman 90 meter di bawah tanah menggunakan gergaji beton dan alat pemotong khusus guna menembus bunker berlapis timbal yang sangat tebal.
Sebagai tahap akhir, uranium yang tersimpan dalam tabung-tabung gas (UF6) akan dievakuasi keluar melalui mekanisme jembatan udara menggunakan pesawat kargo kavaleri. Operasi yang sangat kompleks dan berisiko tinggi ini diperkirakan akan memakan waktu hingga beberapa minggu untuk memastikan seluruh material radioaktif berhasil diamankan sepenuhnya.
Fokus utama dari rencana operasi ini tertuju pada situs strategis di luar kota bersejarah Isfahan, yang menurut laporan IAEA menyimpan cadangan sekitar 970 pon uranium dengan tingkat pengayaan mencapai 60%.
Sejak gelombang serangan udara pada Juni lalu, Iran telah memindahkan seluruh stok ini ke dalam jaringan terowongan yang sangat dalam dan terproteksi secara masif. Kondisi tersebut membuat target tersebut mustahil dihancurkan hanya melalui serangan udara biasa, sehingga militer Amerika Serikat menilai material nuklir tersebut hanya bisa diamankan melalui operasi penggalian atau penyitaan fisik secara langsung di lokasi.
Namun, rencana ambisius ini dibayangi oleh risiko ekstrem yang menghantui Pentagon, terutama terkait durasi pendudukan yang diperlukan. Berbeda dengan operasi kilat seperti penyerangan Bin Laden yang selesai dalam hitungan jam, misi di Isfahan ini memerlukan penguasaan lokasi selama beberapa pekan, yang berisiko menyeret pasukan AS ke dalam pertempuran atrisi atau perang urat saraf yang berkepanjangan.
itu, terdapat ancaman bencana radiasi jika terjadi kesalahan teknis saat mengekstraksi gas uranium hexafluoride, yang dapat memicu kebocoran radioaktif mematikan bagi pasukan penyerang maupun penduduk sipil di sekitarnya.
Risiko korban jiwa yang tinggi juga menjadi perhatian utama, di mana Jenderal purnawirawan Joseph Votel memperingatkan bahwa pertempuran di dalam lingkungan bunker bawah tanah yang sempit, gelap, dan terfortifikasi akan mengakibatkan kerugian personel yang signifikan di pihak Amerika Serikat.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa penyerahan rencana ini tidak berarti keputusan sudah diambil. Namun, tekanan dari faksi konservatif di AS semakin kuat agar Trump segera merampas bahan nuklir tersebut sebelum Iran sempat mengubahnya menjadi hulu ledak.
Langkah ini menciptakan paradoks bagi Trump: di satu sisi ia berjanji mengakhiri perang (retorika penarikan pasukan 3 pekan), namun di sisi lain ia sedang mempertimbangkan operasi darat yang paling berisiko dalam sejarah AS. (zarahamala/arrahmah.id)
