TEHERAN (Arrahmah.id) - Jalur peperangan yang melibatkan Amerika Serikat, 'Israel', dan Iran kini dilaporkan memasuki titik krusial. Para pengamat menilai pihak-pihak yang bertikai kini lebih fokus mencari "pintu keluar" (exit strategy) daripada mengejar kemenangan mutlak, di tengah ketidakjelasan visi akhir dari konflik tersebut.
Hingga saat ini, tekanan internasional terus meningkat. Sejumlah skenario mulai mengemuka, mulai dari kesepakatan politik, pembekuan konflik, hingga kelanjutan perang secara sporadis tanpa penyelesaian final.
Mahjoob Zweiri, pakar politik Timur Tengah, menyatakan bahwa perang telah memasuki fase atrisi atau pengikisan kekuatan kedua belah pihak. Dampak ekonomi, politik, dan kemanusiaan kini semakin nyata dirasakan.
"Situasi ini mendorong transisi ke fase baru yang dikendalikan oleh tekanan internasional serta kemampuan administrasi AS untuk membenarkan kelanjutan perang tersebut," ujar Zweiri.
Senada dengan hal itu, analis politik Amin Qamourieh melihat kecil kemungkinan adanya penyelesaian melalui kemenangan militer mutlak. Ia memprediksi dua skenario paling masuk akal: kesepakatan diplomatik yang kompleks atau pembekuan konflik di mana api peperangan tetap bisa berkobar sewaktu-waktu, terutama terkait status jalur strategis Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah mengancam akan menghancurkan fasilitas energi Iran jika Teheran tidak membuka Selat Hormuz untuk navigasi internasional. Trump dilaporkan telah memperpanjang tenggat waktu sebanyak dua kali, dengan batas akhir pada 6 April mendatang untuk mencapai kesepakatan damai.
Di sisi lain, peneliti senior Al Jazeera Studies Center, Liqaa Maki, menyoroti sulitnya fase ini karena setiap pihak berupaya menciptakan "citra kemenangan" di depan publik masing-masing tanpa mau memberikan konsesi nyata.
Pakar konflik internasional Ibrahim Freihat dan peneliti kebijakan internasional Nigar Mortazavi sepakat bahwa ketidajelasan visi di dalam pemerintahan AS membuat akhir perang sulit diprediksi. Mortazavi menambahkan bahwa Iran berupaya memastikan perang tidak akan terulang, atau setidaknya mengincar keuntungan ekonomi sebagai opsi paling aman bagi mereka.
Secara militer, Brigadir Jenderal Elias Hanna menilai Iran fokus pada strategi bertahan untuk menghindari kekalahan strategis, meskipun harus menanggung kerugian militer yang besar.
Secara kolektif, para analis cenderung sepakat bahwa perang ini kemungkinan besar tidak akan berakhir dengan "pemenang dan pecundang" yang jelas. Sebaliknya, konflik akan bermuara pada pembekuan konflik (freezing) atau perang atrisi berkepanjangan yang diatur oleh diplomasi di balik layar, di mana Selat Hormuz dan fasilitas energi menjadi kartu as dalam negosiasi akhir. (zarahamala/arrahmah.id)
