Memuat...

Tanpa Sepatah Kata, Asy-Syaraa Tegaskan Sikap terhadap “Israel” di Jantung Eropa

Samir Musa
Kamis, 2 April 2026 / 14 Syawal 1447 05:18
Tanpa Sepatah Kata, Asy-Syaraa Tegaskan Sikap terhadap “Israel” di Jantung Eropa
Kanselir Jerman Friedrich Merz dalam konferensi pers bersama Presiden Suriah Ahmad Asy-Syaraa di Berlin, 30 Maret 2026 – (SANA)

BERLIN ((Arrahmah.id) – Presiden Suriah Ahmad Asy-Syaraa kembali menjadi sorotan setelah sikapnya yang mengabaikan pertanyaan jurnalis “Israel” dalam konferensi pers di Jerman memicu gelombang reaksi luas di media Ibrani dan dunia Arab.

Peristiwa itu terjadi dalam konferensi pers bersama Kanselir Jerman Friedrich Merz di Berlin, Senin. Seorang koresponden dari televisi resmi “Israel” mencoba mengajukan pertanyaan kepada Asy-Syaraa terkait “Israel”.

Namun, tanpa memberikan respons sedikit pun, Presiden Suriah itu memilih mengabaikan pertanyaan tersebut dan langsung meninggalkan ruangan.

Momen singkat ini dengan cepat menyebar luas di media sosial, memicu beragam tafsir yang melampaui sekadar dinamika konferensi pers biasa.

Di media Ibrani, insiden tersebut menuai kritik. Sejumlah komentator menyebut sikap Asy-Syaraa sebagai “tidak sopan” bahkan “diskriminatif”. Mereka juga menyoroti meningkatnya perhatian terhadap Suriah, khususnya terkait pergerakan diplomatik terbaru sang presiden.

Sebelumnya, koresponden kanal “Kan” yang meliput di Berlin sempat mengunggah video kedatangan Asy-Syaraa dengan komentar bernada provokatif, mempertanyakan apakah kata “damai” telah masuk dalam “kamus Suriah”.

Namun di sisi lain, reaksi di dunia Arab justru berbanding terbalik.

Banyak aktivis dan warganet menilai sikap tersebut sebagai “tegas” dan “bermartabat”, bahkan menyebutnya sebagai pesan politik yang disengaja, bukan sekadar spontanitas.

Sejumlah pengamat juga menilai fokus media “Israel” terhadap Suriah saat ini sebagai sesuatu yang tidak biasa, bahkan “belum pernah terjadi sebelumnya”. Pengiriman jurnalis untuk mengikuti langsung agenda Asy-Syaraa di Eropa dinilai menunjukkan adanya kepentingan tertentu yang lebih besar.

“Ini bukan liputan biasa, tapi upaya menciptakan isu dari hal kecil,” tulis salah satu komentar yang beredar di media sosial.

Lebih jauh, sebagian analis mengaitkan perhatian tersebut dengan upaya “Israel” untuk kembali membawa isu Suriah ke panggung regional, baik dalam konteks normalisasi maupun eskalasi konflik, terutama di tengah meningkatnya hubungan ekonomi dan politik Suriah dengan negara-negara Eropa dan Teluk.

Dari perspektif publik, tindakan Asy-Syaraa juga dibaca sebagai langkah terukur dalam mengelola pesan politik.

Seorang komentator menilai bahwa “Asy-Syaraa tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Ia tidak ingin terjebak dalam pertanyaan yang bisa dimaknai sebagai legitimasi bagi pihak yang tidak ia akui.”

Pandangan ini menegaskan bahwa menerima pertanyaan dari media “Israel” dalam forum resmi dapat ditafsirkan sebagai bentuk pengakuan atau bahkan normalisasi yang tidak diinginkan, terutama dalam situasi politik yang sensitif.

Di antara yang melihatnya sebagai “konfrontasi diam” dan yang memaknainya sebagai konsistensi sikap terhadap isu normalisasi, insiden singkat di Berlin itu kini menjadi simbol dari dinamika yang lebih kompleks.

Ia bukan lagi sekadar momen singkat di ruang konferensi, melainkan cerminan dari perhitungan politik yang matang—tentang bagaimana Suriah mengelola posisinya di hadapan media global, serta hubungannya dengan “Israel” di tengah perubahan geopolitik yang terus berlangsung.

(Samirmusa/arrahmah.id)